April 22, 2010

Hikari

Suasana malam itu mulai mencekam, Ryu mempercepat langkahnya saat melewati jalan sepi. Sesampainya disebuah taman,dari kejauhan samar-samar Ryu melihat seorang gadis sedang duduk di sebuah ayunan seraya menatap langit. Ryu pun memberanikan dirinya untuk menghampiri gadis itu.
“Permisi…” Ryu mencoba menyapa gadis itu.
“Iya?” gadis itu pun menoleh kearah Ryu. Wajah yang sangat cantik dan lembut.
“Maaf aku mengganggumu. Kamu sedang apa disini?” tanya Ryu lagi.
“Aku tidak tau harus kemana.” jawabnya lembut.
“Hm…kamu bukan hantukan?” pertanyaan yang sejak awal ingin ditanyakan oleh Ryu.
“Hahaha…apakah wajahku seperti itu?” tawanya.
“Hehe..maaf. Ngomong-ngomong kamu tidak punya tempat tinggal?” sambung Ryu.
Gadis itu hanya menggeleng da kembali tersenyum.
“Ya sudah, untuk sementara kamu tinggallah dirumahku. Aku hanya tinggal sendiri karena 4 bulan kedepan ibuku menginap dirumah nenekku. Bagaimana?” tawar Ryu.
“Baiklah…” jawabnya senang.
Sesampainya dirumah Ryu,”wah…rumahmu bagus sekali, walaupun sederhana.” gadis itu tampaknya sangat kagum dengan tatanan rumah Ryu. maklum almarhum ayah ryu adalah seorang arsitek.
“Begitulah… kamu istirahatlah dikamarku. Aku akan tidur di sofa.” ujar Ryu seraya mengantarkan gadis itu ke kamarnya.
“Hm…kamarnya nyaman” ucap gadis itu riang.
“Ngomong-ngomong nama kamu siapa?” tanya Ryu.
“Aku…em, aku Hikari .” jawab gadis itu ragu setelah melihat sebuah nama yang tertulis di sebuah boneka anjing.
“Oh…Hikari. seperti nama anjing betinaku yang sudah mati. haha…tapi aku tidak bermaksud mengatakan kamu adalah anjing kok. O…iya namaku Ryu Higashi.” Ryu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Dengan ragu hikari pun menyambut tangan Ryu. “Tanganmu dingin ya…hehe” ujar Ryu terkekeh.
Keesokan paginya,”Pagi Ryu…”, sapa Hikari membangunkan Ryu.
“Eh…maaf mengagetkanmu.” sambung Hikari lagi.
“Tidak apa-apa. Aduh aku telat! Untung kamu membangunkanku!” ujar Ryu seraya bergegas bangun dan bersiap-siap untuk sekolah.
Sebelum berangkat sekolah Ryu menyuruh hikari mengunci rumah dari dalam, “ Kunci rumah ini dan jangan buka pintu untuk siapa pun. Karena aku tidak ingin orang mengetahui keberadaanmu dirumahku. Aku membawa kunci sendiri. Setuju?”
“Baik Ryu…sampai jumpa!”
Saat ryu tidak ada di rumah,”Ryu ganteng juga! Beruntung aku bisa mengenalnya.”
Hikari pun menyusuri rumah Ryu untuk melihat-lihat isi rumah Ryu. “Rumah ini sangat terawat.” gumamnya. Matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah album foto tua. Ia mengambilnya dan membuka album foto itu.
“Wah…Ryu waktu kecil lucu sekali!” pekiknya.
Setelah melihat semua foto-foto itu, Hikari mengembalikannya ketempat semula.
“Hufh…bosan. Lebih baik aku membuatkan makan siang untuk Ryu!” gumamnya.
Hikari mulai memasak, dibukanya laci-laci di dapur Ryu untuk mencari peralatan masak dan membuka kulkas untuk mencari bahan-bahan yang diperlukan. dia pun mulai memasak berbagai masakan. “Hm..masakannya wangi sekali.” gumamnya. “ Pasti Ryu suka!”
Tidak beberapa lama kemudian terdengar pintu terbuka dari luar,”Ryu!”
Saat ingin menghampiri Ryu, Hikari melihat Ryu sedang bersama dengan seorang gadis.
“Pasti pacarnya.” gumam Hikari lesu. “Aku tidak boleh terlihat” akhirnya Hikari pun bersembunyi di dapur.
Setelah beberapa lama kemudian,”Hikari…” suara itu membangunkannya dari tidur yang lelap.
“Ryu…”
“Maaf membuatmu menunggu, tadi ada Megumi kesini. Untung kamu ada didapur.” ujar ryu padanya.
“Megumi itu pacarmu?” tanya Hikari hati-hati.
“Ya begitulah. Sudah 1 tahun aku berpacaran dengannya.” jawab Ryu seraya menarik kursi disamping Hikari untuk duduk.
“oh…begitu.” Hikari menjawab dengan lesu.
“Hm…semua ini kamu yang masak?” tanya Ryu yang baru menyadari ada makanan di meja itu.
“Iya…”
“Aku coba ya…” ujar ryu semangat.
“Tapi itu sudah dingin, biar kupanaskan dulu.”
“sudahlah…biarkan saja.” Ryu tidak terlalu mempedulikan ucapan Hikari barusan.
“Hm…enak sekali!” pekiknya.
“Tapi itukan sudah dingin” sanggah Hikari.
“Sudah tidak apa-apa. Besok bisakah kamu membuatkanku onigiri untuk bekal?” pinta Ryu.
“Baiklah!” Hikari menerima permintaan Ryu. ia merasa sangat senang karena Ryu menyukai masakannya.
Mulai sejak itu Hikari selalu membuatkan masakan untuk Ryu, membersihkan rumah Ryu, tetapi ia tidak pernah keluar dari rumah Ryu. Walaupun terasa jenuh, tetapi Hikari tidak ingin menunjukan perasaan itu kepada Ryu.
“Hikari, ikutlah aku ke sekolah. hari ini ada event. Pasti kamu jenuh selama 2 minggu ini selalu dirumah.” ajak Ryu.
“Ta…tapi aku tidak punya baju yang bagus. selama inikan aku memakai baju-bajumu.” ujar Hikari.
“Tenang, aku akan belikan.”
“Baiklah…”
Sesampainya di pusat perbelanjaan mereka berdua langsung menuju boutique khusus cewek.
“Ini bagus. kamu coba nih…” ujar Ryu seraya menyerahkan baju itu.
Setelah beberapa saat,”Bagaimana?” tanya Hikari.
Blus putih bercorak polkadot dengan rok mini berwarna pink, sangat cantik sekali.
“yang ini saja, cocok untukmu Hi-chan”
Saat dikasir, petugas kasirnya menanyakan,”Belanja untuk pacarnya ya?”
“Oh…tidak. Untuk teman yang disampingku ini” jawab Ryu.
“Disamping?” tanya petugas kasir itu heran.
“Iya…” jawab Ryu menegaskan.
“Oh…iya. Maaf…” ujar petugas kasir itu lagi.
Setelah pembayaran, Ryu dan Hikari pun beranjak pergi.
“Bukannya dia sendirian?” gumam petugas kasir itu dalam hati. “Aneh sekali…”
“Hikari…kita foto-foto dulu yuk!” ajak Ryu saat melihat sebuah foto box.
‘ta…tapi…” Hikari berusaha menolak.
“Sudahlah…ayo!” Ryu menarik Hikari.
Setelah foto-fotonya selesai,”Hikari kamu ambil deh fotonya. Kamu simpan dulu, nanti aku lihat.” ujar Ryu.
Hikari hanya mengangguk dan melanjutkan langkah kakinya menuju sekolah Ryu. Sesampainya disekolah, “Hai Ryu, tumben gak bareng Me-chan?” tanya salah satu teman Ryu saat berpapasan dengannya.
“Dia menolak saat ku ajak, jadi sebagai gantinya ku ajak teman baru ku ini.” ujar ryu seraya menunjuk kearah Hikari.
“Hah? Kamu nggak bercandakan Ryu?” teman Ryu terkejut.
“Ya aku seriuslah…” jawab Ryu mantap.
“Ryuu… aku buru-buru nih. dadah…” teman Ryu langsung berlari meninggalkan Ryu.
“Dasar orang aneh…” ujar Ryu saat melihat temannya berlari begitu saja meninggalkannya.
“Ya sudahlah Ryu-kun, mungkin dia sedang terburu-buru. Sekarang kita kemana?” tanya Hikari seraya menoleh kesana kemari melihat barang-barang yang terpajang disepanjang jalur itu.
“Hm…aku ingin membelikan kamu sesuatu.” Ryu menarik tangan Hikari menuju sebuah stand yang menjual kalung.
“Hm…kalung ini bagus untukmu.” kalung yang terbuat dari pita pink berhiaskan lonceng , lucu sekali.
“Aku ambil yang ini! dan kalung biru yang sama” ujar ryu seraya menyerahkan selembar uang.
“Untuk siapa?” tanya pedagangnya basa-basi.
“Untuk dia…” Ryu kembali menunjuk kea rah Hikari.
“Dia siapa?” pedagang itu sedikit kebingungan.
“Sudahlah” Ryu menyudahi pembicaraan itu dan membawa Hikari pergi meniggalkan stand itu.
“Aku ingin mengajak kamu kesuatu tempat.” ajak Ryu.
Ryu membawa Hikari ke loteng sekolah tempatnya biasa menenangkan diri ketika hatinya sedang galau.
Ryu memulai pembicaraan dengan hikari yang tampaknya masih terpesona dengan keindahan kembang api yang baru saja dinyalakan oleh panitia event.
“Hi-chan, keluargamu dimana?” tanya Ryu.
“Keluarga…? Aku tidak tau…Aku juga tidak tau apakah aku mempunyai keluarga atau tidak.” jawab Hikari lirih.
“Kenapa kamu sampai tidak tau…” tanya Ryu semakin penasaran.
“Ehm…bisakah kita membicarakan hal yang lain?” pinta Hikari yang tampaknya mulai merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini.
“ba..baiklah. Hm…Hikari, aku ingin memakaikan kalung yang kita beli tadi. Boleh?” tanya Ryu hati-hati.
“Hm…silahkan” Hikari mengijinkan Ryu memakaikan kalung pink itu untuknya.
“Dan…yang biru ini untukku.” ujar Ryu setelah memakai kalung tadi.
Mereka berdua pun tertawa dan saling tatap-tatapan,” Hikari, aku rasa aku suka padamu” ujar Ryu tiba-tiba.
Hikari sangat terkejut,”Aku rasa Megumi lebih membutuhkanmu daripada aku.” jawab hikari setelah itu dengan lembut.
“Ya…mungkin aku salah. Walaupun kamu tidak memiliki perasaan yang sama seperti perasaanku, yang penting aku sudah mengatakan yang sejujurnya kepadamu.”
“Aku hargai itu Ryu…” Hikari memberikan senyum termanisnya untuk Ryu.
Tiba-tiba,*cup*…Ryu mencium Hikari. Hikari terkejut, dan dengan cepat dia berlari meninggalkan Ryu.
“Hikari…bibirmu kenapa dingin sekali? Apa kamu sakit?” gumam Ryu.
Sesampainya dirumah, Ryu bermaksud menemui Hikari dikamarnya. Tetapi Hikari tampaknya sudah tidur. “Sweet dream, Hi-chan”
Keesokan harinya,Ryu pun memberanikan diri menemui Hikari.
‘Hikari…boleh aku masuk?” tanya Ryu seraya mengetuk pintu.
“Silahkan masuk, tidak dikunci.” terdengar jawaban Hikari dari dalam.
Ryu pun membuka pintu dan melihat Hikari sedang memandangi boneka anjing milik Ryu..
“Hikari…maafkan aku atas kejadian tadi malam.” Ryu berusaha meminta maaf kepada Hikari.
Hikari pun membalikkan badannya, dan menatap lekat Ryu,” Tidak apa-apa. Kemarilah…” pinta Hikari.
Ryu pun mendekatkan diri kepada Hikari,”Apakah kau akan sedih jika aku pergi meninggalkan kamu?” tanya Hikari serius.
“Tentu saja…aku tidak mau kehilangan kamu Hikari.” jawab Ryu meyakinkan.
Tiba-tiba,”Ryu-kun…”
Megumi sudah ada di depan pintu kamar ryu dan kemudian dengan cepat menghampiri Ryu dan *Cup..* menciumnya.
Hikari hanya terpaku diam sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ryu pun sangat terkejut.
“Maafkan aku Ryu…aku sudah punya lelaki lain.” aku Megumi.
Hikari pun berlari meninggalkan ruangan itu sambil menangis.
Melihat kepergian Hikari, ryu langsung menyusulnya. “ Hikari”
“Ryu kamu mau kemana?” tanya Megumi bingung.
“Hikari? Dia mengejar siapa? Diruangan inikan hanya ada aku dan dia… Kyaaa” megumi pun berlari meninggalkan kamar Ryu.
Ryu berhasil menemukan Hikari yang masih melarikan diri,”Hikari tunggu aku…!” Ryu berusaha menyusul sampai ia tidak melihat bahwa ada sebuah mobil yang sedang melaju kearahnya.
“Braak…” tabrakan pun tak terelakkan.
Mendengar suara itu, Hikari terhenyak dan membalikkan tubuhnya. Terlihat olehnya tubuh Ryu yang berlumuran darah tergeletak tak berdaya. Akhirnya orang-orang yang berada disekitar tempat kejadian langsung memanggil ambulan. Kalung biru yang diapakai oleh Ryu pun terlepas dan tergeletak begitu saja dijalan. Hikari pun memungut kalung itu dan menyimpannya.
Saat dirumah sakit, Hikari hanya melihat Ryu yang terbaring lemah dari luar ruangan. Saat ada seorang suster ingin memeriksa keadaan ryu, Hikari menahan suster itu.
“Suster, bisakah suster memberikan ini untuk Ryu?” pinta Hikari.
“Tentu saja”
Hikari menyerahkan benda yang ingin dititipkan kepada suster itu dan tak sengaja tangan Hikari menyentuh tangan suster itu, “ Dingin sekali. kamu sakit?” tanya suster itu.
“Tidak…” jawabnya singkat dan kemudian membalikan badan meninggalkan suster itu.
Saat melewati koridor rumah sakit itu, mata Hikari terpaku pada sebuah ruangan dimana dokter dan para perawat sedang sibuk mengurus seorang pasien diruangan itu. Tiba-tiba Hikari merasakan suatu getaran ditubuhnya dan merasa ada sebuah tarikan dari dalam ruangan yang dilihatnya tadi. hikari pun memasuki ruangan itu. Betapa terkejutnya Hikari saat melihat dirinya sedang terbaring tak berdaya, dan tampaknya sudah kritis sekali. Para tenaga medis diruangan itu sedang berusaha menyelamatkan dirinya. Hikari terpaku lemah melihat kenyataan ini.
“Aku…aku sedang koma? Ternyata aku hanyalah roh… pantas saja orang-orang tidak dapat melihatku kecuali Ryu.”
“Hazuki Minamoto. Itu namaku.”
Tiba-tiba, tubuh Hikari mulai memudar, dan akhirnya menghilang. “Ryu…aku masih ingin hidup bersamamu.”
Ryu pun akhirnya sadar,”Hikari..hikari mana?” tanya ryu panik.
“Tenang dik, mungkin yang kamu maksud gadis yang datang kemaren. Dia menitipkan ini untukmu.” Suster itu menyerahkan sebuah foto dan kalung pink.
Dengan tangan gemetar Ryu menerima titipan itu. seraya tidak percaya ia melihat foto itu. Foto yang diambil bersama hikari saat ada event disekolah.
“Hikari…ternyata kamu…” Ryu meneteskan air matanya seraya lekat melihat foto itu.
Di foto itu hanya ada Ryu yang sedang berpose sendirian. Hikari? Dibelakang foto itu ada tulisan “Ryu, maafkan aku. Kita mungkin tidak bisa bersama lagi , tapi aku akui aku juga menyukaimu. Hikari”
“Hikari, kenapa kamu hanya menampakkan diri kepadaku? Tidak heran jika semua orang merasa aneh saat aku menunjuk dirimu. Kamu sudah tiada… Padahal aku masih ingin lebih lama lagi bersamamu, karena aku menyukaimu Hikari. Kalungku biruku entah dimana, tetapi kalungmu akan kusimpan. Hikari…”
2 hari kemudian Ryu sudah boleh keluar dari rumah sakit. setelah membereskan barang-barang, bersama ibunya ia berjalan keluar dari rumah sakit itu. Saat ditaman rumah sakit, langkah kaki Ryu terhenti. ia terpaku melihat seorang gadis yang sedang duduk dikursi roda, menikmati cuaca pagi hari.
“Tidak mungkin itu Hikari…” gumamnya.
“Hikari….”
Gadis yang sedang duduk dikursi roda itu terkejut dan mencari-cari asal suara itu.
“Sepertinya aku mendengar seseorang memanggilku walaupun bukan memanggil namaku.” ujar gadis itu.
Sesampainya dirumah, Ryu langsung bergegas ke kamarnya. Di ambilnya boneka anjing miliknya,”Haha…Hikari ternyata berasal dari tulisan di boneka ini. Dia mungkin lupa nama aslinya.”
2 minggu kemudian, Ryu dan ibunya pindah rumah dan sekolah Ryu pun dipindahkan.
“Hufh…sekolah baru. semoga saja murid-murid disini baik dan ramah. Hikari, kamu melihat akukan dari sana?” gumam Ryu mantap.
criing…lonceng yang ada dikalung Ryu berbunyi.
“Silahkan masuk.” pak guru menyuruh Ryu masuk ke kelas barunya.
Dengan mantap Ryu melangkah masuk keruang kelas itu.
“Baik silahkan perkenalkan dirimu.” pak guru memberikan kesempatan untuk Ryu.
“Selamat pagi semua…perkenalkan namaku Ryu Higashi.” ujar ryu memperkenalkan dirinya.
“Hahaha…banci. Untuk apa kamu memakai kalung pita pink, ada loncenganya lagi. Seperti kalung perempuan!” celetuk salah seorang murid disitu.
Seketika meledaklah tawa seisi kelas itu.
“Kalung itu aku yang memberikannya” tiba-tiba salah satu murid disitu berbicara dengan tenangnya.
“Hikari?” Ryu terkejut. wajah yang familiar sedang tersenyum manis kepadanya.
“Kalian jangan pernah menghinanya lagi! Jika kalian menghina dia berarti kalian menghinaku juga. Paham?!” gertak murid itu.
“Paham ketua Hazuki.” semua murid mengatakannya secara bersamaan.
“Hazuki?” Ryu semakin bingung.
“Baiklah semuanya tenang! Ryu, sekarang kamu duduk dikursi kosong disebelah hazuki. Dia adalah ketua kelas ini” pak guru mempersilahkannya duduk.
Masih dalam keadaan tidak percaya dengan apa yang dialaminya barusan, Ryu melangakah menuju kursi kosong itu. Perlahan dia meletakkan tasnya dan duduk dikursi itu.
“Sudah tau jika aku mengambil nama itu dari bonekamu?” celetuk Hazuki mengagetkan Ryu.
“Hikari?”
Kriing…bel tanda istirahat berbunyi.
“Ikut aku!” hazuki menarik tangan Ryu. Ryu hanya pasrah mengikuti hazuki.
Sesampainya ditaman sekolah,”Apakah tanganku masih dingin?” tanya hazuki pada ryu yang masih tercengang.
“Ti…tidak. Hikari?” jawab Ryu terbata-bata.
“Sst…namaku adalah Hazuki Minamoto. Jadi mulai sekarang panggil aku dengan nama Hazuki.”
“Ba…bagaimana kamu bisa hidup lagi. Bukankah…maaf, bukankah kamu sudah meninggal?” tanya Ryu hati-hati.
“Lebih tepatnya aku hanya koma. Setelah menitipkan foto itu, aku melihat diriku sendiri sedang terbaring koma diruangan tak jauh dari ruanganmu. Aku koma karena kecelakaan yang menimpakku. Aku koma selama 2 bulan. Maka dari itu saat menjadi roh aku tidak ingat apa-apa. Beruntung kamu menemukanku. Tidak berapa lama diruangan itu, tubuhku tiba-tiba lenyap. dan aku pun sadar dari komaku selama ini.” jelas Hazuki panjang lebar.
“Hazu-chan, apakah sekarang kita bisa bersama lagi? selamanya?” tanya Ryu seraya menggenggam kedua tangan Hazuki.
“Tentu Ryu…karena aku juga menyukaimu.”
Ryu memeluk hazuki, dan dengan pasrah hazuki dicium oleh Ryu.
“Ryu…” Hazuki oun melepaskan pelukannya.
“Ada apa?”
“Apakah kamu masih menganggapku sebagai anjing? Guk…guk…hahaha…”
“Kamu..!”
Hazuki pun berlari dan Ryu mengejarnya. Criing…lonceng yang ada dikalung mereka pun berbunyi secara bersamaan.
“Ryu…kamu adalah cinta sejatiku.” gumam Hazuki.
*guk guk*

0 komentar:

Posting Komentar