“Mama, aku pergi main ke danau dulu ya… “
“Ya…hati-hati ya Sora!”
Sora, gadis kecil berumur 5 tahun, bermata coklat muda yang memiliki senyum manis bak seorang malaikat kecil. Dia selalu mengenakan kalung yang terbuat dari pita biru muda yang berhiaskan lonceng kecil. Dia juga selalu membawa boneka kucing pemberian almarhum ayahnya yang diberi nama Chii. Ayahnya telah tiada karena kecelakaan pesawat saat Sora masih berumur 2 tahun.
“Hoah…indahnya, ya kan Chii?” Sora mengajak Chii berbicara, seakan-akan Chii hidup.
“Chii, kapan ya aku bisa terbang ke langit?” gumamnya seraya memandangi langit biru nan luas dan indah. Sora sangat suka memandangi langit di danau itu. Warna biru muda dari langit dan air danau itu tampaknya dapat memberikan kedamaian untuknya
“Hoam…aku mengantuk.” ujar Sora seraya menguap dan merebahkan tubuhnya ke rerumputan yang hijau. Chii pun ikut menemaninya di dalam pelukannya.
Tak beberapa lama kemudian, tiba – tiba “Duuuk…”
“Aduh!” pekik Sora terbangun dari tidurnya.
“Huuu… Chii kepala ku sakit” tangisnya.
Tiba-tiba seorang anak lelaki menghampirinya seraya mengambil bola yang ada disamping Sora.
“Cengeng! Gitu aja udah nangis…payah! Anak perempuan memang cengeng…” ujarnya.
“Apa kamu bilang…bolamu sudah mengenai kepalaku!” Sora meneriaki anak itu sambil terisak-isak.
“Itukan cuman bola! Gimana kalo kena batu, kamu pilih yang mana?” balas anak itu dengan angkuhnya.
Tangis Sora pun semakin keras. Bergegas ia mengambil Chii dan segera berlari meninggalkan anak lelaki itu. Anak lelaki itu hanya terpaku melihat kepergian Sora.
Sesampainya di rumah ,Sora langsung berlari kekamarnya dan mengurung diri.
“Chii, dia jahat! Sudah salah, memaki lagi! Apa susahnya sih meminta maaf?” Sora menumpahkan kekesalannya kepada Chii. Tentu saja sora tidak mendapatkan 1 patah kata pun jawaban dari Chii.
“Chii, kalungmu mana?” Sora kaget dan mencari-cari kalung yang dipakaikannya kepada Chii. Kalung yang sama seperti yang dipakainya. Sora panik, dan akhirnya kembali menangis dengan keras. “Mama…”
“Ada apa Sora?” mama dengan cepat menghampiri anaknya dan memeluknya.
“Ma…kalung chii hilang.”
“Mungkin terjatuh saat kamu main di danau. Besok kamu cari lagi disana. sudah ya, jangan menangis lagi.” mama mencoba menenangkan Sora.
“Iya ma…” isaknya.
Keesokan harinya Sora pun mencari-cari kalung itu di danau. Dia mencari kesana kemari tetapi tetap tidak dapat menemukannya. Sora pun terduduk lemas dan kahirnya menangis.
“Hey cengeng, memangnya stok air matamu berlimpah ya?” suara itu mengagetkan Sora yang masih menangis terisak-isak.
Sora pun menoleh kearah datangnya suara itu.
“Anak itu lagi!”
“Mau apa kemari?” tanya Sora ketus.
“Hah…” desah anak itu seraya mendudukan tubuhnya di samping Sora.
“Kamu sedang apa disini?” tanyanya.
“Buat apa kamu menanyakan hal itu? Itu bukan urusanmu!” jawab Sora seraya memalingkan wajahnya.
“Kamu mencari ini?” anak itu menunjukan kalung pita biru muda dengan loncenganya.
“Itu kalung Chii!” pekiknya riang.
“Nih…kemaren waktu kamu pergi, kalung ini jatuh” jelasnya seraya menyerahkan kalung itu.
“Terima kasih” Sora merasa sangat senang sekali. Refleks dia pun memeluk anak lelaki itu.
“Hey…apa-apaan kamu ini?” anak itu mencoba melepaskan diri dari pelukan Sora.
“Hehe…maaf” ujar Sora seraya tersenyum kecil.
“Senyum kamu manis juga… Nama kamu siapa?” tanya anak itu.
Sora menjawab dengan riang, “Sora…namaku Sora Koyama. Kamu?”
“Ryu…Ryu Sakurai. Aku sudah beberapa kali melihat kamu bermain disini bersama boneka kucingmu itu. sepertinya kamu menyukai tempat ini.” ucapnya seraya menatap lekat senyum Sora.
“Ya…aku dan Chii sangat senang bermain disini, karena susananya nyaman dan aku dapat dengan leluasa melihat langit dari sini. aku ingin sekali terbang kelangit” Sora menunjuk ke arah langit, tak lepas senyumnya yang manis itu.
“Besok kembalilah kesini dan bermain bersamaku” pinta Ryu.
“Eh…hm…baiklah” Sora mengangguk dan beranjak dari tempat itu seraya melambaikan tangan kepada Ryu.
Sejak saat itu, sora dan ryu selalu bermain bersama di danau itu. Mereka bercanda dan berlari-larian kesana kemari, tersirat kebahagiaan dimata keduanya. Hingga pada suat saat, Sora mengalami insiden. Asma Sora kambuh.
“Sora…Sora…kamu kenapa?” tanya Ryu panik. Matanya menyusuri danau itu, berharap ada seseorang yang dapat menolong mereka.
“Ryu…Ryu…” ucapnya terengah-engah dan hampir tak terdengar.
Ryu pun memegang erat tangan Sora dan memberikan nafas buatan, berharap suatu keajaiban akan terjadi. Ajaibnya, perlahan-lahan nafas Sora pun terdengar mulai kembali normal.
“Ryu, terima kasih karena kamu telah menolongku.” Sora tampak sangat gembira sekali dan ia pun memeluk erat Ryu.
“Aw…sakit.” Ryu mengaduh.
Sora pun melepaskan pelukannya perlahan,”Hehe…maaf” tawanya.
“Syukurlah kamu tidak apa-apa. aku khawatir dan panik sekali. Kenapa kamu tidak bilang kalo kamu mengidap penyakit asma?” tanya Ryu penasaran.
“Hufh…aku hanya tidak ingin Ryu khawatir seperti tadi. Karena aku sayang Ryu.” jawabnya seraya menatap lekat ryu.
Ryu pun kikuk,”Anak cengeng, jangan ngomong yang aneh-aneh deh!”
“Aku sungguh-sungguh…aku sayang ryu. Aku ingin ryu menjagaku selamanya…”
Ryu tersenyum,”Sora adalah milik Ryu. Dan Ryu akan menjaga Sora selamanya.”
“Ini, kalung untuk Ryu. Supaya Ryu selalu ingat sama Sora” Sora memasangkan kalung yang biasanya dipakai Chii.
“Kamu ingin aku menjadi kucing?” canda Ryu.
Sora pun mendekap erat Ryu…”Ryuu…”
”Aduh terlalu kencang, sakit”
Mereka berdua pun tertawa riang seraya saling menatap satu sama lain dan bergandengan tangan.
2 hari kemudian Ryu menemui Sora dalam keadaan lesu.
“Ryu kenapa?” tanya Sora heran.
“Sora, maaf…aku akan pindah ke Amerika. Hari ini aku akan pergi. Orang tuaku dipindah tugaskan ke sana, jadi mau tidak mau aku harus ke sana juga.” jelas Ryu lirih.
“Ryu mau meninggalkanku?” tanya Sora yang tanpa sadar telah meneteskan air mata.
“Tidak…aku sudah janji aku akan menjaga Sora selamanya. Aku akan kembali suatu saat nanti.”
“Ryu…aku tidak mau berpisah. Aku tidak mau Ryu meninggalakanku sendirian.” Sora dengan sigap mendekap ryu.
“Sora, aku pun begitu. tapi… apa boleh buat. Aku janji sesampainya disana aku akan selalu menghubungimu. Aku pasti kembali…”
“Ryu tidak akan melupakan akukan?”
“Aku janji” Ryu mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Sora.
“Sampai jumpa, Sora…impianmu untuk terbang ke langit akanku wujudkan. Kita berdua akan terbang kelangit bersama-sama.” Ryu pun beranjak meninggalkan Sora seraya melambaikan tangan ke arah Sora.
Sora hanya tersenyum lirih melepas kepergian Ryu. Terpaku dalam kesendirian, ditinggalkan oleh ryu.
10 tahun telah berlalu, Ryu tidak pernah menghubungi Sora sekalipun. Tentu saja Sora sangat sedih dan tersiksa selama 10 tahun itu. Walaupun saat itu mereka masih anak kecil dan masih belum serius tetapi Sora merasa kejadian 10 tahun lalu itu adalah serius. Ia benar-benar sayang pada ryu bahkan ia selalu memimpikan ryu. Ia percaya, Ryu akan kembali dan menepati janjinya untuk selalu menjaganya selamanya.
“Sora…!”
“Ada apa Tomoko-chan?” tanya Sora.
“Ichiro mencarimu, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” jawab Tomoko, sahabat Sora.
“Katakan saja aku sedang sibuk.” Sora mencari-cari alasan agar tidak bertemu Ichiro.
Ichiro adalah teman Sora sejak SD. Ichiro juga menyukai Sora sejak pertama kali bertemu. Sora selalu menolak jika Ichiro mengajaknya jalan-jalan. Sora tidak ingin menghianati Ryu. Sora selalu berdalih jika Ichiro menanyakan alasan kenapa dia selalu menolak ajakan Ichiro. Ia tidak ingin memberikan alasan yang sebenarnya.
“Sora…”
Sora tersentak kaget. Ichiro sudah berdiri dihadapannya.
“Ada apa?” tanya sora seraya mengalihkan pandangannya dari Ichiro.
“Aku hanya ingin mengajakmu makan siang bersama.” ajaknya.
“Ma..maaf Ichi-kun, aku tidak bisa karena aku sedang mengerjakan tugas.” tolak sora.
“It’s okay…kapan-kapan kamu harus mau ya!” sambungnya lagi seraya berlari meninggalkan Sora.
“Hoah…”
Sora menelungkupkan wajahnya, “,Maafkan aku Ichi-kun, hanya saja aku sudah memiliki seseorang yang sudah berjanji menjagaku. Ryu…kamu dimana?”
Pada malam harinya, saat sebelum tidur Sora menghampiri lacinya. Diambilnya sebuah foto,” Aku merindukanmu Ryu kecilku…”
Saat Sora tengah terlelap, tiba-tiba angin berhembus kencang. Tampak sesuatu telah memasuki kamarnya.
Keesokan harinya, “Hoam…selamat pagi Chii” sapanya. Tetapi matanya tiba-tiba terbelalak saat melihat seekor kucing putih selain Chii tidur disebelahnya, ia terkejut.
“Kucing siapa ini? Kenapa dia ada disini?” pikirnya dalam hati.
Sora pun memeluknya dengan erat.
“Kyaaa…” suara itu berasal dari kucing itu.
“Kyaaaaa…” Sora terkejut sampai refleks melempar kucing itu.
“Aduh…” kucing itu kesakitan seraya memegangi kuping mungilnya.
“Ke…kenapa kucing bisa bicara?” Sora sangat shock melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada. Digosoknya matanya beberapa kali, berharap semua itu hanya mimpi.
“Percuma…ini nyata.” ujar kucing itu seraya mendekatkan diri ke Sora.
“Jangan mendekat!” Sora pun melempari kucing itu dengan bantal.
“Hey…hey….”
*pufh…* kucing itu berubah menjadi sesosok lelaki tampan dengan kuping kucing dikepalanya dan sayap putih dipunggungnya. Sora semakin shock sehingga dia pun pingsan.
Beberapa saat kemudian sora pun sadar.
“Selamat pagi Sora…”
“Kyaaa….” pekik sora.
“Hey…tak bisakah kamu tidak berteriak? Tenanglah…aku tidak akan mengganggu mu.” ujarnya.
“Ka…kamu siapa?” tanya sora tersendat-sendat.
“Hm…aku adalah dewa kematian yang akan mencabut nyawamu 3 bulan lagi.” jawabnya dengan penuh kharisma.
“Hahahahaha….” tiba-tiba tawa sora meledak.
“Ada yang salah?” tanya dewa kematian itu bingung.
“Hari gini mana ada dewa kematian! Ngaco!” ujar Sora terkekeh.
“Aku serius…kamu akan meninggal dalam waktu 3 bulan lagi.”
Sora pun tersentak, terdiam, kemudian menangis…
“Hey..hey…ngapain nangis?”
“Kamu menginjak kakiku!” jawab Sora setangah berteriak.
“Haha…maaf.”
“O iya…kenapa bisa ada dewa kematian ya?” tanya sora lagi.
“Agar roh mu itu tidak tersesat, maka kamilah yang akan menuntun jalanmu agar sampai di jalan yang benar.”
“Terus kenapa dewa kematian bisa berubah jadi hewan?”
“Itu hanya penampilan saja, agar anak-anak tidak takut pada kami.”
“Jadi maksud kamu aku ini masih anak-anak?” tanya Sora geram.
“Eh..tidak-tidak, bukan begitu. Kebetulan dewa kematian yang lain sedang sibuk, makanya aku deh yang ditugaskan.” jawabnya terkekeh.
“O…” Sora tetap saja masih tidak percaya karena menurutnya semua ini tidak masuk akal.
“Namaku Hitsugaya Kira.” ujar dewa kematian itu memperkenalkan diri.
“Nggak nanya…”
“Fiuh…” Hitsu menghembuskan nafas dengan kencang.
Sora pun dengan gontai berjalan menuju jendelanya, dipandanginya langit biru nan luas itu. Kemudian dirogohnya kantong piyamanya, dia mengambil fotonya bersama ryu. Tanpa terasa air matanya telah meleleh dipipinya.
“Cengeng, jangan menangis.” ujar Hitsu seraya menyeka air mata Sora dengan jarinya.
“Suara itu… Kenapa aku merasa Ryu berada didekatku? Ryuuu…” gumam Sora dalam hati.
“Aku akan meninggail karena asmakan?” tanya Sora mengejutkan Hitsu.
“Hm…begitulah. Tapi tenang saja, kamu masih punya waktu 3 bulan kok.” jawabnya terkekeh.
“Tapi apakah dalam waktu 3 bulan itu aku bisa bertemu dengan orang yang kucintai?” tanya Sora lagi.
Hitsu hanya terdiam, ia menatap lekat Sora dan melihat betapa sedihnya hati sora saat ini. “Soraa..”
“Sudahlah…aku mau berangkat sekolah.” sora memecahkan keheningan.
Saat pelajaran sekolah dimulai tiba-tiba Hitsu muncul di hadapan Sora.
“kamu ngapain disini?” tanya Sora.
Semua murid pun sentak melihat kearah Sora.
“Sora, ada apa?” tanya pak guru.
“Ini pak, ada makhluk aneh” tunjuk Sora kearah Hitsu.
“Apaan? Gak ada apa-apa tuh didepanmu!” ujar salah satu temannya.
“Hah?” jelas Sora sangat terkejut.
“Mereka tidak dapat melihatku. Aku adalah milikmu, jadi hanya kamu yang dapat melihatkku.” ujar Hitsu terkekeh dan kemudian menghilang.
“Huh…dasar pengganggu!” geram sora.
Saat istirahat, Sora memilih menyendiri di taman belakang sekolah.
“Fiuh…hanya langit yang bisa menenangkanku. Begitu juga ryuu…”
“Sedang apa disini?” tiba-tiba Hitsu muncul mengagetkan Sora.
“Ah…kamu. Aku sedang menatap langit biru” ujar sora seraya menunjuk kea rah langit.
“Untuk apa?” Hitsu heran.
“Langit dapat menberi ketenangan untukku, begitu juga dengan ryu…” jawabnya.
“Ryu? Siapa dia?”
“Kekasih kecilku yang sangat aku sayangi, dan ia sudah berjanji akan menjagaku selamanya.”
“Sekarang dia dimana?” tanya Hitsu lagi.
“Aku tidak tau. dulu dia pindah ke amerika dan berjanji akan menghubungiku. Tetapi sampai saat ini dia tidak pernah menghubungiku.” Sora kembali meneteskan air matanya.
“Dasar cengeng, dia pasti akan menemuimu” jawab Hitsu seraya menatap kelangit.
Sora pun menatap Hitsu sambil tersenyum. Hitsu pun mengalihkan pandangannya ke wajah Sora. “Senyummu…manis sekali.”
Tiba-tiba Ichiro dating menghampiri sora,” Sora, nanti malam ke pestanya sama aku ya!”
“Hah? Maaf, aku pergi kesana bersama Tomoko.”
“Tapi Tomoko bilang dia bersama Kenji?”
“Oh…mungkin aku tidak akan datang.” jawab Sora menghindar.
“ayolah…” paksa Ichiro seraya memegang tangan Sora kuat.
“Lepaskan…Ichiro, tolong lepaskan.” pinta Sora.
Ichiro pun berusa mencium sora,”Ichiro, jangan!”
Tiba-tiba,whuuus…angin berhembus kencang sekali sehingga ichiro ketakutan dan ia pun pergi meninggalkan Sora.
“Dasar lelaki hidung belang” Hitsu terkekeh seraya berdiri dibelakang Sora.
“hitsu…” refleks Sora pun memeluk erat Hitsu. “Terima kasih…”
“Iya…aduh sakit. jangan terlalu erat dong meluknya!” Hitsu tampak kesakitan.
Kriiing…bel tanda masuk pun berbunyi. “Hitsu-kun, aku masuk dulu ya.”
Hitsu hanya tersenyum melihat sora yang berlari dengan gembira. “Tampaknya, aku tidak akan sanggup mencabut nyawa anak itu.”
Pada malam hari Sora pun menghadiri pesta itu sendiri, karena Tomoko jadi pergi dengan kenji pacarnya. Ia bersiap-siap memilih-milih baju yang cocok untuk pesta itu. Gaun biru dengan hiasan pita biru besar dan juga dengan kalung pita biru yang selalu dipakainya cocok sekali.
“cantik…” ujar Hitsu mengagetkan.
“Oh…terima kasih.”
“Pergi sendirian?” tanya Hitsu.
“Ya…Tomoko pergi dengan Kenji” jawabnya.
Sesampainya di pesta, sora langsung menghampiri Tomoko.
“Tomoko jahat, sudah membiarkan aku pergi sendirian!” ujar Sora pada tomoko yang sedang ayik berbincang-bincang dengan Kenji.
“Maaf Sora, habisnya Kenji yang mengajakku.” bisik Tomoko karena ia tidak ingin Kenji mendengar ucapannya.
“Ya sudah. Aku kesana dulu ya.” Sora menghampiri meja makan. tapi tiba-tiba seseorang mendekapnya dari belakang dan membawanya ketempat yang sepi.
“Ichiro?”
“Aku sudah tidak tahan lagi. kamu selalu menghindar dari ku. Maka rasakan pembalasannya.” ichiro pun memegang erat tangan sora dan kembali berusaha menciumnya.
“Tolong…tolong…” Sora berusaha meminta pertolongan, tetapi percuma karena itu tempat yang sangat sepi.
Tetapi belum sempat Ichiro menciumnya, tiba-tiba bruuk…Ichiro terjatuh.
“Lepaskan sora, dia adalah milikku.”
“Hitsu?” sora kebingungan.
“siapa kamu?” tanya Ichiro seraya berusaha bangkit berdiri.
“Aku adalah kekasih Sora, jadi jangan pernah mengganggunya lagi.” jawab Hitsu.
“Huh…ternyata. baiklah…” ucap ichiro seraya meninggalkan mereka berdua.
Sora hanya terpaku dan menangis.
“Sudahlah, dia tidak akan mengganggumu lagi.” ujar hitsu seraya memeluk Sora.
“Hitsu!” sora mendorong hitsu. “aku benci padamu! Aku bukanlah milikmu! aku miliknya ryu! aku benci Hitsu!”
Hitsu terkejut mendengar ucapan sora,dia hanya terdiam melihat Sora berlari pergi meninggalkannya. “Sora…”
Beberapa hari kemudian Hitsu tidak pernah muncul lagi.
“Hoah…senangnya tidak ada yang mengganggu hidupku lagi beberapa hari ini.” Sora merebahkan tubuhnya dan menutup matanya. Tiba-tiba dia teringat akan Hitsu.
“Hitsu…”
“aduh…kenapa lagi sih aku bisa mikirin dia! Dewa kematian yang aneh… Tapi dia telah menolongku” muncullah persaan bersalah dihati sora. Beberapa hari kemudian Hitsu tak kunjung datang. “Aku kangen Hitsu…!!!!” teriak Sora.
“Merindukanku?” tiba-tiba Hitsu muncul di jendela kamar sora.
“Hitsu…” Sora langsung memeluk Hitsu. Hitsu hanya tersenyum, mendekap halus sora dan menutup kedua matanya.
“Kenapa kamu tega meninggalkan aku sendiri?” tanya sora memecah keheningan.
“Hehe…aku sebenarnya tidak kemana-mana. Aku selalu mengawasimu dari kejauhan, karena aku tidak mau Sora sedih jika aku berada di dekat sora.” jawabnya.
“Sora, ikut aku yuk!” Hitsu menarik tangan Sora dan melompat keluar jendela.
“Kyaaa…” sora ketakutan. ia menutup kedua matanya, dan tak berani melihat apa-apa.
“Tenanglah, aku bersamamu. sekarang bukalah matamu.”
Perlahan-lahan Sora membuka kedua matanya,”Langit, terbang!” pekiknya senang.
Sora sangat senang sekali, entah kenapa dia merasa sedang terbang bersama Ryu. sora menutup kedua matanya, merasa hembusan angin yang menerpa wajahnya. “Ryu..”
Setelah itu Sora dan hitsu semakin akrab, bahkan Hitsu sampai lupa tugas utamanya. dia merasa sangat dekat dengan Sora, dan tidak ingin meninggalkan sora. Hingga pada suatu hari saat ditaman sora menanyakan sesuatu yang tidak seharusnya tidak ditanyakannya kepada Hitsu.
“Hitsu…apa kamu pernah menjadi menusia?”
“tentu saja. semua dewa kematian pernah menjadi manusia.” jawab Hitsu yang sedang asyik menikmati es krimnya.
“Dulu nama mu siapa?” tanyanya lagi.
Hitsu terdiam sejenak, tetapi kemudian mengatakan. “ aku tidak tau. aku lupa semuanya saat aku meninggal. dewa kematian tidak boleh mengingat masa lalunya sebagai manusia, atau dia akan berubah menjadi roh. Dan kamu mau pun aku tidak dapat melihat roh itu.”
“Maafkan aku Hitsu-kun” Sora baru paham walaupun dalam hati dia sedikit kecewa.
“O iya…kalung yang kamu pakai itu, sama seperti yang aku miliki. Dapat darimana?” sambung Sora lagi.
“Ini…ini…aku tidak tau. aku sudah memilikinya saat aku baru menjadi dewa kematian.” jawabnya lirih.
Tiba-tiba…”ah…” Hitsu tiba-tiba merasa kesakitan. dia memegangi kepalanya, seakan-akan mengingat sesuatu.
“Hitsu…Hitsu…”
*pufh….*
Hitsu berubah menjadi kucing lagi. “Hitsu kamu kenapa?” sora panik.
“tidak apa-apa. Kekuatanku hanya melemah. Mungkin karena aku mengingat masa lalu manusiaku.”
“Kamu mengingat apa?” tanya sora penasaran.
“Entahlah…aku mengingat seorang gadis kecil yang sedang membawa boneka kucing. aku rasa ada hubungannya dengan kalungku.” jawabnya.
“Ah…Ryu.” pekik Sora dalam hati.
“Aku mohon, kamu jangan lagi mempertanyakan masa lalu ku. karena aku tidak ingin berpisah denganmu sora.” pinta Hitsu.
“Ba…baiklah”
Hari kematian Sora semakin dekat, tinggal seminggu lagi. Tetapi Sora tidak pernah merasa sedih, dia selalu ceria. Dan harapannya untuk bertemu Ryu pun tidak pernah padam. Pada suatu malam, sora mengajak Hitsu untuk berbincang-bincang diloteng rumah sora.
“Sora…apakah kau masih mengharapkan Ryu?”
“Tentu saja” jawabnya sambil tersenyum.
“Bagaimana sih wajah Ryu itu?” Hitsu merasa penasaran.\
Sora pun menunjukkan fotonya bersama Ryu kecil. “Nih..”
Hitsu merasa familiar dengan wajah anak itu,”Ini…” belum selesai Hitsu berbicara, tiba-tiba asma Sora kambuh. Nafas sora terdengar sangat berat,”Sora…sora” hitsu sangat panik. Kemudian dia pun memegang erat tangan Sora dan memberikan nafas buatan untuk sora.
“Ryu…” ujar Sora.
Hitsu terenyak, kemudian ingatan masa lalunya mulai muncul satu-persatu. “Tidaaakkk…..” Hitsu berteriak dan langsung terbang meninggalkan sora yang masih tergelatak lemah.
“Ryu…jangan tinggalkan aku.”
Hari yang ditunggu pun akhirnya datang. Hari kematiannya seperti yang dikatakan oleh hitsu. Tetapi hingga malam hari, sora masih sehat-sehat saja. sora pun merasa bingung sampai tidak bisa tidur. tiba-tiba dia mendengar suara Hitsu menyuruhnya ke loteng.
Perlahan sora menuju ke loteng, kemudian terlihat Hitsu sedang berdiri menunggunya.
“Hitsu…”
“Sora…kemarilah…” pintanya.
Sora pun perlahan mendekatkan diri ke Hitsu. Kemudian Hitsu mendekapnya erat.
“Hitsu, kenapa sampai saat ini aku tidak meninggal? Bukankah kamu mengatakan hari ini adalah hari kematianku.” tanya Sora hati-hati.
“Sora…sebenarnya kamu masih mempunyai umur yang panjang.”
Sora terhenyak dan melepaskan diri dari pelukan Hitsu.
“Jadi selama ini kamu membohongiku?!” tanya sora lantang.
“Bukan begitu. Sebenarnya aku tidak tega mencabut nyawamu. saat aku menghilang waktu itu aku pergi kea lam baka untuk memohon agar namamu dihapus dari daftar kematian. Ternyata namamu telah terhapus sendiri. Semangat hidupmu sangat besar sehingga namamu pun terhapus dengan sendirinya.” jelas hitsu.
“Terus untuk apa kamu masih disini?”
Hitsu terdiam sejenak,”Karena aku suka sora.” jawabnya.
Sora terkejut,”Tidak bisa! kamu tidak berhak untuk menyukaiku karena aku adalah milik Ryu!”
“Sora, aku adalah ryu kecilmu. Ryu sakurai.”
Sora benar-benar shock. “Itu tidak mungkin! Tidak mungkin ryu sudah meninggal! Ryu tidak mungkin meninggalkanku…Tidakkk….!!
“Sora, kamukan yang memberikan kalung ini?” ujar hitsu sambil menunjuk kalung yang dipakainya.
Sora pun mengalihkan pandangannya kearah kalung itu.
“Ini adalah kalung Chii yang aku temukan saat kita masih kecil.”
“Kalau kamu benar-benar ryu, kenapa kamu tidak pernah menghubungiku? kamu bohong!”
“Sora…saat aku pergi ke amerika, pesawat yang ku tumpangi mengalami kecelakaan.Maafkan aku sora. Janji itu, bukankah sudah ku tepati? Aku sayang sora kecilku” ujar hitsu lembut.
Sora hanya terdiam.
Tiba-tiba tubuh Hitsu perlahan-lahan menghilang. “hitsu…Ryu aku mohon jangan tinggalkan aku lagi!” ucap Sora sedih.
“aku sudah mengingat masa laluku sebagai manusia, maka inilah saatnya aku berubah menjadi roh.”
“tapi hitsu….”
“Aku akan selalu menjagamu selamanya, sora…”
‘Hitsu….!!!!” *whuuus…*
Tubuh hitsu berubah menjadi serpihan-sepihan kecil yang berkilauan.
“ryu…itukah kamu? Kenapa kamu meninggalkanku begitu cepat?”
2 tahun kemudian…
“pagi sora!” sapa tomoko.
“pagi…” jawabnya lesu. kemudian Sora mengambil fotonya bersama Ryu waktu itu. Ryu…apakah kamu ada disampingku?” tanyanya dalam hati yang sedih. Ia memandang kea rah langit. “Langit, aku membencimu! Kamu telah merenggut nyawa Ryu dan ayahku!”
Bel masuk pun berbunyi, sora buru-buru memasukan foto itu kedalam laci.
“selamat pagi”
“Selamat pagi pak!”
“Baiklah, hari ini kita kedatangan murid baru. Silahkan masuk.”
Seorang murid lelaki memasuki kelas sora. sora terhenyak,”dia…dia…”
“selamat pagi semua. Perkenalkan namaku RYU SAKURAI”
“Ryuuu!!!” pekik Sora tiba-tiba.
Semua orang tercengang. Murid itu hanya tersenyum.
Saat istirahat, Sora langsung menghampiri Ryu. “Ryuuu!!!”
Sora dengan sigap memeluk Ryu,”aduh…” Sora menangis dipelukan Ryu.
“Cengeng…sakit tau!” Ryu melepaskan pelukannya dari sora dengan perlahan.
“Kanapa kamu bisa ada disini? Bukankah kamu sudah…?” sora mulai merasa takut.
“haha…aku pun mulanya bingung. Ternyata selama ini aku belum meninggal. aku koma dirumah sakit selama 10 tahun. Keinginan aku untuk melindungi Soralah yang membuatku sadar dari komaku selama ini.”
“Aku harus memanggilmu apa? Ryu atau hitsu atau kucing jelek?’ goda sora.
“Hitsu hanyalah kenangan. Aku adalah ryu kecilmu…
“Kamu janjikan nggak akan meninggalkan aku lagi?” tanya sora serius.
“Iya…karena aku sayang sora.”
Ryu pun mencium Sora dan lonceng dari kalung yang dipakai Sora dan ryu pun berbunyi.
“Langit…aku tidak akan membencimu lagi. terima kasih telah mempertemukan aku dengan Ryu, kekasih kecilku.”
Mereka berdua pun tertawa dengan riang, dan bahagia selamanya.
“Meong…”




0 komentar:
Posting Komentar