“Hikari…”
“Ada apa Izumi?” tanya Hikari seraya meneguk soft drink ditangannya.
“Kalo aku pergi kira-kira kamu sedih nggak?” tanya Izumi dengan hati-hati.
“Pertanyaan macam apa itu?!” bentak Hikari seraya menatap dan menunjuk wajah Izumi.
“Hey…akukan hanya bertanya.” ujar Izumi seraya menepis tunjukan Hikari.
“Memangnya kamu mau kemana?” tanya Hikari balik.
“Nggak kemana-mana kok!” jawab Izumi yang tampaknya menyembunyikan sesuatu.
“Yang pastinya aku nggak mau Izumi-kun pergi kemana-mana. Janji?”
“Janji…”
Keesokan harinya, Izumi tidak ada disekolah. Hikari mencarinya dimana-mana, tapi tetap saja tidak menemukannya.
“Ishida!!!!” teriak Hikari di depan kelas Ishida.
Ishida terkejut, “Ah…em…Eh… a…ada apa Hikari?” tanya Ishida terbata-bata.
“Mana Izumi!!!!” tanya Hikari seraya berjalan mendekati meja Ishida.
Ishida tidak langsung menjawab, malahan menarik tangan Hikari dan membawanya kesuatu tempat.
“Hikari, kamu siap nggak mendengar semua ini?” tanya Ishida sedikit berhati-hati.
“Mendengar apa?” tanya Hikari penasaran.
“Sebenarnya hari ini Izumi, pergi ke Amerika untuk mengurus perusahaan kakekku.Kemungkinan besar tidak akan kembali kesini lagi.” jelas Ishida.
Hikari terpaku, dia benar-benar shock. Air mata mulai membasahi pipinya, dia pun pergi berlari meninggalkan Ishida yang juga terdiam melihat reaksinya.
Saat di tangga Hikari berselisihan dengan Ryu, “Hikari…kamu kenapa?” tanya Ryu. Tetapi Hikari tidak memperdulikan pertanyaan Ryu itu ia terus berlari. Ia bersembunyi di taman belakang sekolah. Dia memanjat pohon yang selalu menjadi tempatnya menangis jika ia sedang sedih.
“Izumi…bukankah kamu berjanji akan selalu bersamaku?” ucap Hikari terisak-isak. Hikari melihat kearah langit, dan dilihatnya sebuah pesawat sedang melintas diatasnya. “Izumi, aku mohon kembalilah.”
Saat malam harinya, Ryu, Ishida dan Hikari berkumpul dirumah Ryu untuk menghibur Hikari. Supaya Hikari senang akhirnya kedua cowok itu memasakan masakan2 favorit Hikari. Hikari hanya duduk menunggu diruang tengah sambil menonton TV.
“Headline news… Baru saja pesawat yang terbang dari Jepang menuju Amerika, tergelincir saat pendaratan di bandara. Pesawat tersebut meledak dan menewaskan semua penumpangnya. Tidak ada 1 pun penumpang yang selamat…”
Seketika Hikari tersentak dan berteriak,”Izumiiii….!!!!”
Mendengar teriakan Hikari, Ryu dan Ishida dengan cepat berlari mendatangi Hikari. saat diruang tengah, Ryu dan Ishida melihat Hikari pingsan.
“Astaga…” pekik Ryu.
Ishida yang melihat berita itu juga shock. “I…Izumi…”
Ishida terduduk seraya membungkam mulutnya dengan tangannya.
“Ishida…Ishida kamu kenapa?” tanya Ryu panik karena melihat kedua sahabatnya itu shock.
“I…Izumi kecelakaan… Pesawat yang ditumpanginya tergelincir saat pendaratan” jelas Ishida terbata-bata.
Ryu hanya terdiam mendengar semua itu, seolah tak percaya Izumi telah tiada. Ssesaat dia sadar, ia mengangakat Hikari ke kamarnya. Sedangkan Ishida masih duduk di ruang tengah.
“Hikari…Hikari…bangunlah!”
Beberapa saat kemudian, Hikari pun bangun. “Izumi…Izumi…!” ia memanggil-manggil nama kekasihnya itu.
“Hikari…Hikari…tenanglah! Izumi telah tiada…” Ryu memeluk erat Hikari yang masih terisak-isak menangis.
Ishida pun mendatangi kamar Ryu, “Ryu, biarkan aku yang mengantarnya pulang. Aku takut ibunya khawatir.”
“Baiklah. Hikari, Ishida akan mengantarmu pulang…berhati-hatilah.” pesan Ryu seraya mengantarkan Hikari kedepan rumahnya.
“Sampai jumpa.”
Keesokan harinya, Hikari datang kesekolah dengan wajah lesu. Matanya tampak berkantung dan masih sembap. Hikari juga selalu menghindar jika Ryu menghampirinya, dan hal ini berlangsung selama beberapa hari sampai Hikari sendiri yang datang menemui ryu.
“Ryu…aku tidak melihat Ishida sejak beberapa hari yang lalu. Dia kemana?” tanya Hikari seraya duduk disamping Ryu.
Dengan berat Ryu pun menjawabnya, “Ishida pergi menyusul ke Amerika. Izumi dimakamkan disana.”
“Apa? Kenapa kamu baru bilang sekarang?” Hikari tampaknya tidak bisa menerima perkataan Ryu barusan.
“Ishida yang berpesan kepadaku, supaya tidak mengatakan hal ini kepadamu. Dia tidak ingin kamu melihat melihat prosesi pemakaman Izumi.”
*plaak…* “Bodoh!!!” Hikari pun menampar pipi Ryu. Ryu tidak berbuat apa-apa, ia hanya memegangi pipinya.
“Pokoknya besok kamu harus mengantarkanku ke Amerika untuk melihat Izumi!” pinta Hikari dengan paksa.
“Mana bisa kamu berkata begitu! Amerika itu jauh…lagian apa kamu tau seluk beluk amerika. Bahkan kamu saja tidak pernah membaca peta” ucap Ryu sedikir keras.
“Aku tau perusahaan kakeknya Izumi. Ishida pernah memberitahuku tempatnya di Washington. Kita harus kesana besok…!”
“Terserah kamulah…” Ryu hanya pasrah melihat semangat Hikari untuk pergi ke Washington menemui Izumi sangat besar.
“Horee… Ryu baik deh….!!! Hikari memeluk Ryu erat, sampai-sampai Ryu tidak bisa bernafas.
“Hey kamu…lepaskan!!!”
Malam harinya, Hikari meminta ijin kepada orang tuanya. Pertamanya sih nggak diijinkan, tetapi lama-kelamaan setelah Hikari benar2 memohon, meyakinkan, dan mengiyakan beberapa syarat yang diberikan oleh orang tuanya, akhirnya diijinkan.
Hikari pun menyiapkan segala kebutuhannya yang kira2 dipakai saat di sana.
“Semua siap!” pekiknya. “Izumi, tunggulah aku…”
Keesokan harinya, Ryu dan Hikari pun berangkat ke Amerika dengan diantar oleh orang tua HIkari sampai bandara.
“Ryu…jaga Hikari ya.” pesan mamanya HIkari.
“Iya tante. Itu pasti.” jawab Ryu dengan mantap.
“ya sudah ma… pasawatnya udah mau berangkat. Bye…” Hikari cipika-cipiki dengan kedua orang tuanya dan kemudian melambaikan tangan.
Saat di dalam pesawat, Hikari tertidur bersandar dibahu Ryu dan kembali mengigau, “Pangeranku, tunggulah aku…”
“hahaha…ternyata Izumi itu pangerannya” gumam Ryu dalam hati seraya mengelus-ngelus kepala Hikari.
Sesampainya di bandara,”Amerika…kita sudah sampai!!!” pekiknya.
“Hikari, aku lapar. Kita cari tempat makan dulu yuk!” ajak Ryu yang tampak sangat lapar sekali sampai2 dia memegangi perutnya.
“Baiklah.”
HIkari dan Ryu pun mencari tempat makan. Hikari hanya memesan coffee mocca hangat, sedangkan Ryu memesan beberapa menu.
Setelah kenyang, Ryu mengajak Hikari untuk mencari penginapan. Untuk mengirit biaya, akhirnya Ryu dan Hikari mengaku bahwa mereka saudara, dan mereka pun diijinkan untuk 1 kamar.
Saat dikamar, Hikari langsung tetidur pulas karena kecapean. Sedangkan Ryu tidur di sofa. Tengah malamnya Ryu terbangun karena suara Hikari. Hikari tampaknya sangat gelisah sekali sampai2 tidurnya tidak karuan. Melihat hal itu, Ryu pun mendekati Hikari kemudian duduk disamping Hikari dan menyenderkan kepala Hikari di bahunya. Ia mengelus kepala Hikari dengan lembut,” Hikari seharusnya kamu adalah milikku. Bukan milik Izumi…”
Keesokan paginya,”Selamat pagi tuan putri. Ayo bangun…!” Ryu membangunkan Hikari dengan terpaksa, karena sebenarnya dia tidak tega membangunkan Hikari.
Dengan berat Hikari berjalan menuju kamar mandi.
Selesai mandi, Hikari dan Ryu pun sarapan.
“Ngomong-ngomong kamu tau nggak alamatnya yang rinci?” tanya Ryu sembari mengunyah rotinya.
“Em… sejujurnya aku hanya tau Washington saja. Untuk yang rincinya, aku nggak tau...” jawab Hikari sedikit ragu.
“Apa?! Kalo ginikan kita nggak tau harus kemana! Washington ini luas!!!” suara Ryu sedikit mengeras.
“tapi kitakan bisa bertanya kepada orang-orang disekitar sini.” Hikari mencoba menenangkan Ryu.
“Itu dia masalahnya. Apa bahasa inggrismu lancar?” tanya Ryu.
“Bukankah Ryu bisa?” tanya Hikari balik.
“Bisa sih bisa, tapi kalo kalimat2 yang sulit…aku angkat tangan deh.” jawab Ryu seraya mengangkat tangannya. ya sudah kita coba dulu.
Ryu dan Hikari pun memulai pencarian. Mereka berdua mendatangi tempat2 yang ramai dikunjungi orang. Mereka menanyakan perusahaan pak Himura.Tetapi tidak ada 1 orang pun yang tau. Begitu juga dengan hari berikutnya, hasilnya sama saja.
“Hikari, apa kamu tau nama lengkap kakeknya Izumi?” tanya Ryu.
“Nggak…cuman tau Himuranya aja.”
“Ya ampun… Ya sudah sekarang kita beristirahat dahulu. Besok kita lanjutkan lagi.” saran Ryu.
Keesokan harinya untuk menghilangkan stres Hikari mengajak Ryu untuk melihat patung Liberty dan tempat2 wisata lainnya. Ryu membelikan Hikari sebuah kalung pita berlonceng kesukaan Hikari. Hari itu Hikari tampak bahagia dibuat Ryu sampai2 ia melupakan Izumi.
Hari sudah malam, Ryu mengajak Hikari untuk beristirahat disebuah taman. Sambil memakan hamburger yang mereka beli di Mc Donald, mereka menikmati malam hari itu.
“Hikari…kenapa sih kamu sampai rela jauh2 datang kesini untuk mendatangi Izumi yang sudah mati.” tanya Ryu.
Hikari berhenti mengunyah sejenak kemudian menelannya. “Jangan pernah sekali pun kamu menyebut Izumi mati…!” geram Hikari.
“tapi itu memang benarkan…!”
“Ryu, hentikan omong kosongmu itu. Aku yakin Izumi masih hidup. Aku bisa merasakannya selama kita di sini. Aku merasa dia terus mengikuti kita.” ucap Hikari dengan nada emosi.
“Tapi kamu harus bisa menerima kenyataan ini, kalo Izumi sudah mati!” ucap Ryu dengan penuh emosi.
*plaaak* Hikari menampar wajah Ryu,” Jangan pernah sekali-kali kamu mengatakan Izumi sudah mati! Aku tau dia ada disini.!”
“Hikari…sadar!!! Untuk apa kamu melakukan semua ini?”
“Aku mencintai izumi! Aku percaya Izumi akan memenuhi janjinya untuk terus menjagaku!”
“Hikari…apa hanya dia yang bisa menjagamu. Aku juga bisa!” Ryu berbicara dengan keras seraya memegang bahu Hikari dan menggoyang-goyangkannya.
“Aku juga mencintaimu, Hikari…!” aku Ryu.
“Ryuuu…” Hikari terkejut.
“Hikari…aku sangat mencintaimu” Tiba-tiba Ryu berusaha mencium Hikari, tapi…
“Ryu…cukup!!!” suara itu mengagetkan mereka berdua.
Dihadapan mereka berdiri 2 orang cowok yang sangat mereka kenal.
“Izumi!!! Ishida….” pekik Hikari. Seketika itu juga Hikari berlari kearah izumi dan memeluknya.
“Hikari…” Izumi memeluk Hikari dengan erat, tampak sekali jika Izumi sangat merindukannya.
Tiba-tiba Hikari melepaskan pelukkannya,” Kamu, Izumi…bukankah kamu sudah meninggal?” tanya Hikari masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Ini semua hanya rencana Izumi saja, hehehe” jawab Ishida terkekeh.
“maksudnya?” Hikari masih bingung.
“Aku hanya ingin tau seberapa jauh kamu mencintaiku… Sebenarnya aku tidak kemana-mana dan terus mengikutimu sampai kesini. Aku yakin kamu pasti mengajak Ryu untuk menyusul ishida. Lagipula, bukankah kakekku sudah meninggal?” jelas Izumi seraya tertawa kecil.
“Ini tidak lucu!” Hikari geram.
“Hey Hikari, untuk apa kamu ke Washington? Bukankah perusahaan kakekku berada di New York?” tanya Ishida seraya tertawa keras.
“Hah? Tapi…”
“Mungkin kamu salah dengar… Aku memberitahumu saat kita sedang bermainkan?” jelas Ishida.
Hikari mengingat-ngingat sesaat,”Hehe…Benar juga ya…” tawanya.
“Tapi kenapa waktu berita kecelakaan itu diberitakan, Ishida ikut2an shock.?” tanyanya lanjut.
“Hahahaha…aku shock karena untung saja semua ini hanya bohongan. kalo Izumi beneran berangkat ke Amerika, mungkin dia benar-benar…” jelas Ishida yang masih tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Hikari yang sangat shock itu.
“Maaf ya Hikari…untuk kejadian yang tadi… Itu semua hanya acting” Ryu meminta maaf kepada Hikari.
“Sudahlah…yang penting aku tidak kenapa-napa. dan terbukti kalo Hikari benar2 cinta kepadaku.” Izumi mulai menenangkan suasana.
Tanpa basa-basi lagi Hikari berlari memeluk Izumi. “ kamu jahat!!”
Keesokan harinya, mereka berlibur dan pergi ketempat2 wisata untuk melepaskan lelah dan menghilangkan stress. Raut wajah keempatnya tampak sangat bahagia, mereka semua sudah melupakan semua kejadian yang mereka alami kemaren.
2 hari kemudian mereka kembali pulang ke Jepang. Saat istirahat sekolah, Hikari menghampiri Ryu yang sedang duduk ditepi kolam ikan sekolah sambil melempari kerikil kecil.
“Ryu…kenapa kamu nggak jujur aja sih dari awal. kamu juga sama jahatnya dengan Izumi!” canda Hkari.
“tapi actingmu hebat juga ya!” lanjut Hikari seraya ikut melempari kerikil ke kolam.
Ryu menatap Hikari lekat, “ Tidak semuanya acting. Sebagian ada yang keluar dari hatiku.”
“Maksudmu?” tanya Hikari sedikit bingung.
“Hikari!!!!” Izumi tampak berlarian bersama Ishida dari kejauhan.
Hikari pun menghampiri Izumi dan berlarian mengejar Izumi dan Ishida. Ia tampak sangat senang sekali.
“Hikari…aku memang benar2 mencintaimu…” gumam Izumi.
To be continue...




0 komentar:
Posting Komentar