April 24, 2010

Wonderlife part 1

“Ryu-kun!!!…”
“Ada apa Hikari?”
“Lihat ini…!” Hikari menunjukkan sebuah koleksi kalung barunya.
“Pita…pita…dan pita. Hikari, apakah kamu tidak bisa memamerkan barang lain selain kalung pita berloncengmu itu? Tampak seperti kalung kucing!”
“Kak Izumi jahat! Itukan hakku ingin mengoleksi apa.” Hikari tampak sangat kesal sekali dengan celetukkan Izumi.
“Sudahlah Izumi, kamu jangan terlalu keras pada Hikari.” bela Ryu.
“Kyaaa…Ryu-kun adalah pahlawanku!” pekik Hikari seraya memeluk Ryu.
“Hey Hikari, beruntungnya kamu selalu dibela oleh Ryu. Haha…Hey Izumi, kamu jangan terus-terusan menyalahkan Hikari, kasihan dia.” celetuk Ishida.
“Huh!” Izumi tidak terlalu mendengarkan celotehan Ryu dan Ishida itu.
Mereka berempat itu adalah sahabat sejak kecil. Mereka selalu bersama dalam susah maupun senang dan tidak dapat dipisahkan walaupun kelas mereka berbeda. Ryu,Izumi, dan Ishida adalah seniornya Hikari.
Hikari Aoyama, cewek berumur 15 tahun ini adalah cewek yang super aktif tetapi ceroboh. Dia sangat suka bela diri. Walaupun wajahnya cantik dan memiliki senyum yang manis, tetapi dibalik itu dia memiliki kekuatan yang sangat besar. Saat kecil dia pernah meninju wajah Izumi sampai berdarah karena Izumi tidak sengaja menginjak ekor kucing peliharaannya. Dia juga suka mengoleksi kalung berlonceng yang terbuat dari pita warna-warni. Rambutnya di highlight merah dan diikat kebelakang menyerupai pita.
Ryu Higashi, cowok berumur 17 tahun ini adalah cowok penggemar olahraga basket dan menjadi ketua tim basket sekolah ini. Wajahnya tampan, dengan highlight biru dirambutnya menambah ketampanannya. Dia adalah idola semua siswi disekolah ini. Dia adalah orang yang paling dekat dengan Hikari, dan dia sudah menganggap Hikari sbeagai adiknya sendiri.
Izumi Himura, cowok berumur 17 tahun ini adalah cowok pendiam dan tertutup dibandingkan yang lain. Dia memiliki kembaran bernama Ishida. Dia menggunakan kaca mata, dia paling suka membaca buku. Selama sekolah dia selalu menjadi juara umum sekolahnya. Tetapi walaupun begitu penampilannya tidak kalah menariknya dengan Ryu dan Ishida,walaupun rambutnya tidak di highlight tetap saja tampan. Hubungan Izumi dan Hikari tidak terlalu akrab. Mereka berdua seringkali berselisih paham. Tetapi jangan salah lho, diam-diam Izumi ini menyukai Hikari sejak kecil, tetapi Hikari lebih memilih Ryu daripada dirinya. dan dia merasa risih jika Hikari memanggilnya ‘Kak’, karena dari antara mereka bertiga hanya dia yang dipanggil Hikari dengan sebutan itu.
Ishida Himura, kembaran Izumi ini adalah cowok agresif, berbeda dengan Izumi yang pendiam. Hobinya adalah bermain gitar. Semua cewek langsung melting saat melihat penampilannya saat dipanggung. Wajahnya sama tampannya dengan yang lain, tetapi dia lebih populer ketimbang yang lain. Dia juga sangat senang menggoda Izumi dengan Hikari, karena dia tau Izumi menyukai Hikari.
Teng…teng…bel istirahat telah berbunyi. Seperti biasa mereka berempat berkumpul diloteng sekolah tempat mereka sering berkumpul..
“Ryu-kun, aku membawakan bekal untukmu” Hikari menawarkan onigiri buatannya yang dibawanya sebagai bekal.
“Oh…terima kasih Hikari….”
“Hikari, boleh aku minta?” tanya Ishida sedikit ragu. Karena pengalaman saat kecil, Hikari pernah menggigit tangannya saat dia mengambil makanan Hikari tanpa ijin.
“Tentu saja…silahkan diambil.” jawab Hikari tersenyum seraya menyodorkan kotak bekalnya pada Ishida.
“Hm…enak!” pekik Ishida. “Hey Izumi, onigiri buatan Hikari enak lho!” goda Ishida pada Izumi.
“Tidak lapar” jawab izumi singkat dan ketus.
“Siapa juga yang ingin membagikan onigiri ini ke kak Izumi, wee…” ejek Hikari.
“Sudah…sudah! Ngomong-ngomong rencana kita hari ini gimana? Jadi gak nonton aku manggung?” tanya Ishida dengan mulut penuh onigiri.
“Hm…jadi. Bagaimana Hikari?” tanya Ryu.
“Tentu saja. Ryu bisa jemput akukan?” pinta Hikari dengan penuh harap.
“Maaf Hikari, hari ini aku harus mengantar Hotaru les dahulu” Hotaru adalah adik laki-laki Ryu.
“Ishida?” tanya Hikari memohon.
“Maaf juga. Aku harus latihan dulu sebelum tampil. Bagaimana dengan Izumi saja.” usul Ishida terkekeh.
“Tidak mau.” tolak Izumi.
“Huh! siapa juga yang mau bareng kak Izumi!” balas Hikari ketus.
“Sudahlah Izumi, aku tidak mau tau. Kau harus mau bersama Hikari. Nanti aku menyusul.” ujar Ryu.
“Hufh…” desah Hikari seraya menggembungkan pipinya.
Sore harinya sesuai perjanjian, Izumi akhirnya mau menjemput Hikari.
“Selamat sore tante. Hikarinya adakan?” sapa Izumi.
“Ada. Silahkan masuk” mamanya Hikari menyuruh Izumi masuk.
“Terima kasih” ujar Izumi seraya duduk disofa empuk milik Hikari yang selalu jadi tempat mereka bermain dari dulu.
“Ma…aku pergi dulu.” ucap Hikari sedikit berteriak. Bergegas dia menuruni tangga dan menemui Izumi.
“Sudah siap?” tanya Hikari mengagetkan Izumi.
Izumi pun berdiri dan memandangi Hikari lekat,”Cantik…” ucapnya reflex.
“Apa?” tanya Hikari yang tidak terlalu mendengar ucapan Izumi.
“Eh…tidak. maksudku kamu lama sekali!” jawab Izumi seraya mengalihkan pembicaraan.
“Namanya juga cewek. Ayo….!” jawab Hikari seraya menarik tangan Izumi.
Saat diperjalanan,”Tumben kak Izumi cakep” celetuk Hikari terkekeh.
“Apa maksudmu?” tanya Izumi ketus.
“Tanpa kacamata dan ada highlight merah dirambutmu.” Hikari tersenyum memandangi izumi yang tampaknya mulai salah tingkah.
“Sudahlah. Nanti kita terlambat!” ujar Izumi seraya menutupi rasa malu-malunya terhadap Hikari. Dia mempercepat langkahnya meninggalkan hikari. Tak berapa lama Hikari berteriak,”Kak Izumi tunggu aku, kaki ku terkilir!” Izumi terkejut dan bergegas menghampiri Hikari,”Kamu kenapa?”
“Hak sepatuku patah, dan kakiku terkilir. Aku tidak bisa jalan.” jawab Hikari terisak.
“Sudahlah, diam saja. Naik!” Ryu bermaksud menggendong Hikari.
Tanpa banyak bicara Hikari pun menuruti perintah Izumi. “Aduh, kamu berat sekali.” pekik Izumi.
“Sudahlah, gendong saja!”
Sesampainya di kafe tempat Ishida manggung,”Hey bocah, turunlah.” pinta Izumi. Tapi tidak ada jawaban dari Hikari.
“Hikari bangun!” perintah izumi.
“Hoam…sudah sampai ya? Hehe” Hikari hanya terkekeh dan berlenggang masuk kedalam kafe itu.
Ternyata acara sudah dimulai,”Ryu!!!” panggil Hikari pada seorang cowok yang sedang duduk sambil menikmati coca-cola.
“hai Hikari. Izumi mana?” tanya Ryu seraya melambaikan tangan.
“Itu…dia masih diluar. Mungkin marah karena aku tertidur saat digendongnya.” jawab Hikari lesu.
“Digendong?” Ryu agak sedikit bingung.
“Sudahlah, ayo kita kesana. Ini saatnya penampilan Ishida.
“Oke!”
Suara riuh memenuhi ruangan café itu, semua orang meneriakan nama “Ishida” saat Ishida mulai tampil. Ishida adalah seorang vocalist sekaligus gitaris. beberapa lagu seudah dibawakan grup Ishida.
“Hikari aku ke toilet dulu ya. Kamu berhati-hatilah.”
“Oke!”
Saat music yang dimainkan semakin keras, orang-orang sudahmulai lepas kendali untuk menggerakkan tubuh mereka mengikuti alunan musik. Tiba-tiba seorang lelaki terjatuh dan hampir menabrak Hikari.
“Hikari, awas!” ujar seseorang seraya menyelamatkannya.
“Kak izumi.” Hikari tercengang.
“Makanya, kamu tidak usah sok-sokan sendiri disini!” ucap Izumi ketus.
“Huh! Siapa juga yang sok-sokkan!”
Acara pun usai, Ryu dan Ishida menghampiri Hikari dan Izumi.
“kalian kenapa?” tanya Ishida karena melihat Izumi dan Hikari saling membelakangi.
“Bocah, itu sudah menyusahkanku!” jawab Izumi tanpa memalingkan wajahnya.
“Siapa yang menyuruh kamu menolongku?” Hikari mulai emosi.
“Sudah-sudah” lerai Ryu seraya tertawa kecil melihat kelakuan kedua sahabatnya itu.
“Aku dan Ryu ada urusan sebentar. Kalian pulanglah dahulu.” ujar Ishida seraya merangkul bahu Ryu.
“Apa? Aku tidak mau mengantar dia lagi.” Izumi menolak.
“aku juga tidak mau pulang bersamamu.” ucap Hikari tak mau kalah.
“Ya sudah kami pulang duluan ya!” pamit Ryu pada Hikari dan izumi.
Sekarang tinggal mereka berdua ditempat itu.
“Aku pulang sendiri saja” ujar Hikari seraya berlari meninggalkan Izumi.
Izumi tidak menjawab dan membiarkan Hikari pulang sendiri.
Diperjalanan suasana malam mulai mencekam. Hikari melewati jalan sepi, sendirian. Tiba-tiba ia melihat sekumpulan orang-orang mabuk. mau tidak mau dia harus melewati mereka karena itu jalan satu-satunya menuju rumahnya.
“hay Cantik…sendirian aja?” goda salah satu dari mereka.
Hikari mempercepat langkahnya tanpa menghiraukan orang-orang itu. Tiba-tiba salah seorang dari mereka mulai menghalang-halangi jalan Hikari.
“Minggir!” perintah Hikari.
“hahaha…ayo cantik. Lebih baik bersama kami.”
“Tidaaak….” *Bruuk…* pemabuk yang menggoda Hikari tadi tersungkur di tanah.
“Ayo Hikari!” orang yang menolong Hikari tadi menarik tangan Hikari.
“Kak izumi, ngapain disini?” tanya Hikari heran.
“Masih nanya lagi. Aku sudah memperkirakan akan terjadi kejadian seperti ini. Walaupun kamu hebat bela diri tetap saja kamu adalah perempuan.”
“tapi….”
“Naiklah kepunggungku!” pinta Izumi.
Krena sudah terlalu letih juga akhirnya Hikari menurut saja.
Diperjalanan pulang Hikari pun tertidur,”Terima kasih Izumi” ucapnya tanpa sadar karena ia tertidur. Izumi hanya tersenyum mendengar ucapan Hikari barusan dan ia tertawa kecil saat melihat wajah polos Hikari saat tidur.
Sesampainya dirumah,”Permisi…”
“Ya? Oh…Izumi. masuk masuk” mama Hikari mempersilahkan masuk.
“Ya ampun hikari!” mama Hikari sedikit terkejut melihat Hikari yang tertidur pulas digendongan Izumi.
“Tidak apa-apa tante. Aku akan langsung mengantarkannya ke kamar. “Permisi.”
Sesampainya dikamar Hikari, Izumi meletakkan Hikari di atas kasurnya. “Kamu lebih cantik saat tidur Hikari.” tawanya.
Izumi melihat sebuah buku yang terbuka di atas meja belajar Hikari,diary Hikari. Izumi pun membaca isi halaman yang terbuka itu. “Izumi!!! Aku tak tau kamu itu malaikat atau monster! Aku membencimu, tapi aku juga menyayangimu seperti yang lainnya. Walapun kamu adalah orang paling menyebalkan didunia ini” Setelah membaca tulisan itu, Izumi hanya tersenyum.
“Hikari…” izumi mendekatkan diri pada Hikari dan mengkecup keningnya.
“Dasar Izumi menyebalkan…” igau Hikari.
“Selamat tidur Hikari…” Izumi menutup pintu kamar Hikari dan beranjak pulang.
Keesokan harinya,”Ryuuuu…!!!” panggil Hikari dari kejauhan dan ia berlari menghampiri Ryu,Izumi dan ishida.
“Ada apa Hikari?” tanya Ryu penasaran.
“Malam tadi aku bermimpi seorang pengeran mengecup keningku tetapi wajahnya tidak terlalu jelas.” jelas Hikari.
Ryu dan Ishida hanya saling berpandangan kemudian memandangi sambil tersenyum Izumi yang tampaknya ikut mencuri dengar walaupun ia sibuk dengan bukunya. Izumi yang merasa dipandangi menjadi salah tingkah…”Apaan sih?”
“Hahahahaha…” Ryu dan Ishida kemudian tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Hikari dan Izumi hanya diam saja karena heran melihat tingkah Ryu dan Ishida. Kemudian Izumi dan Hikari hanya saling bertatapan. “Perasaan apa ini?”


To be continue

0 komentar:

Posting Komentar