“Giselle dimana sih?” Alexa sedang kebingungan mencari keberadaan Giselle sekarang. Karena tidak memperhatikan jalan tiba-tiba,bruuk…Alexa menabrak seorang cowok yang menurutnya ganteng banget. “Kamu nggak papa?” tanya cowok itu seraya mengulurkan tangan bermaksud menolong Alexa berdiri. “ Nggak papa” jawab Alexa tersipu malu. “Aku Calvin anak 12IPS2, kamu? Siswi baru ya disekolah ini?” tanyanya. “Aku Alexandra May,anak 10 ruang 3” jawabnya pelan. “Oke deh… Alexa. Aku lagi terburu-buru nih. Entar kapan-kapan ketemuan lagi” ujar Calvin seraya meninggalkan Alexa. Alexa hanya terpaku melihat kepergian Calvin. Tiba-tiba Giselle mengejutkannya dari belakang, Alexa pun tersadar dari lamunannya.
“Cie...kenapa nih kok ngelamun ditengah koridor kaya gini? Habis ngeliat apaan?” tanya Giselle.
“Malaikat, Gis...” jawab Alexa singkat.
“Malaikat kesiangan kaleee... Udah ah gak usah ngelamun entar kesambet lho!”
“Biarin asalkan aku bisa dapetin tu cowok”
“O...ternyata cowok. Pantesan... ya udah deh terserah kamu aja. Aku sih iya..iya aja” canda Giselle. Mereka berdua pun melangkah masuk ke kelas.
Saat pelajaran berlangsung tiba-tiba seorang cowok mengetuk pintu kelas Alexa. “ Permisi, bisa bicara sebentar dengan yang bernama Alexa?” tanyanya.
“Calvin?” pekiknya. Alexa pun menghampiri Calvin. “ Ada apa?” tanya Alexa.
“Entar pulang sekolah bareng aku ya!” pintanya.
“Eh..kak. Tapi...”
Belum sempat Alexa menyelesaikan kata-katany, Calvin memotong “Udahlah gak usah gitu. Aku tau kamu mau” ujarnya seraya mengedipkan mata. Alexa tertegun, dan akhirnya dia mengangguk setuju.
Sepulang sekolah, sesuai janji Calvin sudah menunggu Alexa diparkiran sekolah.
“Buruan naik gih” pinta Calvin seraya menghidupkan sepeda motornya.
Mereka berdua pun berjalan mengelilingi kota. Dan mereka berhenti di sebuah resto untuk makan.
“Kamu percaya gak cinta pada pandangan pertama?” tanya Calvin seraya menggombal.
Alexa hanya tersipu malu tanpa menjawab.
Tiba-tiba Calvin memegangi tangan Alexa,”Lex, kamu mau nggak jadi cewek ku?”
Tentu saja Alexa terkejut sekali. Tetapi dengan cepat dia menjawab mau karena dia tidak ingin kesempatan ini dibiarkan saja.
Sesampainya di rumah,” Gis...aku jadian ama Calvin”
“Sumpeh lo? yang bener aja...kalian juga baru kenal. Hati-hati sakit hati...”
“Ya nggak bakalan” jawab Alexa santai.
Keesokan harinya,Giselle pergi ke perpustakaan sendirian tanpa ditemani Alexa. tanpa sengaja, Gisellle melihat Calvin sedang berdua-duaan dengan seorang cewek yang tentu itu bukan Alexa. “Itu siapanya ya?” gumamnya. “ Jangan-jangan...” Giselle dengan cepat berlari mencari Alexa denagn maksud ingin memberitahukan hal tersebut kepada Alexa.
“Lex, diperpus tadi aku melihat Calvin sedang berdua-duaan dengan sorang cewek, mesra banget!” jelas Giselle.
“Kamu jangan mengada-ada deh! Aku tau kamu nggak suka kan kalo aku jadian dengan Calvin”
“Tapi Lex…”
“Udah..mulai sekarang kita udah nggak sahabatan lagi.” teriak Alexa pada Giselle. Alexa pergi meninggalkan Giselle. “ Aku ngomong apa adanya,Lex…”
Karena penasaran Alexa pun berlari ke arah perpustakaan. Dia terkejut melihat Calvin sedang bermesraan dengan seorang cewek. “Kurang ajar” geramnya seraya meninggalkan perpustakaan itu. Karena merasa bersalah Alexa pun berlari mencari Giselle.
“Gis…maafin aku” Alexa berlari memeluk Giselle.
“Eh..kenapa nih?” tanya Giselle terkejut.
“Benar katamu, Calvin emang penipu!”
“ya sudahlah… yang penting kamu sudah tau.” ujar Giselle berusaha menenangkan Alexa yang menangis tersedu-sedu.
Beberapa hari kemudian ada berita mengejutkan yang diterima Alexa. Setelah check up ke dokter karena merasa ada yang aneh dengan tubuhnya ternyata selama ini dia mengidap penyakit jantung. Sungguh sedih bukan kepalang si Alexa saat mengetahui penyakitnya itu. Alexa tidak ingin orang-orang terdekatnya tau, apalagi orang tuanya. maka dari itu Alexa berusaha keras menutup-nutupi penyakitnya itu.
Kondisi Alexa semakin melemah, disaat itu muncul sorang cowok bernama Gary. Dia adalah kakak kelas Alexa yang ternyata menyukai Alexa dan sering memperhatikan Alexa. Saat ditaman…
“Hai Alexa…entar malem ada waktu nggak?” tanya gary.
“Emangnya kenapa, kak?”
“Aku pengen ngajak kamu jalan. Maukan?”
“Hm…oke deh.lagian aku nggak ada kegiatan juga malam ini.” jawab Alexa.
“Aku tunggu di taman kota jam 7,oke?” ucap Gary seraya berlalu.
Pada malam harinya sesuai janji mereka ketemuan di taman. Saat menunggu Gary tanpa sengaja Alexa melihat Calvin sedang diserang sekawanan preman. Alexa pun berlari menghampiri Calvin, dan tiba-tiba…sebuah pisau lipat tertusuk di punggung Alexa. dan seketika Alexa pun tersungkur ketanah. Melihat kejadian itu, para preman itu kabur tanpa mempertanggung jawabkan perbuatannya. Calvin hanya ternganga tanpa melakukan apa-apa melihat Alexa yang tersungkur tidak berdaya di tanah. gary yang melihat hal itu langsung berlari kearah Alexa dan segera menelpon Giselle. Tidak berapa lama Giselle datang beserta mobil ambulan. Gary tidak ikut mengantar Alexa ke rumah sakit, dia malah menantang Calvin untuk berkelahi. Dia tidak terima melihat Calvin yang tidak dengan segera menolong Alexa. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, dan mereka berdua pun berkelahi dibawah hujan yang cukup lebat.
“Heh kamu…gak bisa mikir atau emang nggak punya otak? tanya Gary penuh dengan emosi.
“Mulut kamu di jaga ya!”
“Kenapa kamu nggak menolong Alexa yang udah nyelamatin nyawa kamu?!”
“Untuk apa…? Dia bukan siapa-siapa aku!” jawab Calvin dengan geram.
Tanpa basa basi lagi Gary melemparkan pukulan yang kuat ke wajah Calvinsehingga Calvin tersungkur.
“Itu buat Alexa!”
Gary pun segera menyusul ke rumah sakit. Sesampainya di ruangan Alexa, Gary melihat Alexa yang terbaring lemah tidak berdaya dan Giselle yang sedang menangis menggenggam tangan Alexa.
“Gimana keadaan Alexa?” tanya Gary dalam keadaan basah kuyup.
“Gak tau. Dia hanya tertidur. Jangan telepon orang tuanya ya…Alexa tidak mau orang tuanya kawatir.” ujar Giselle.
Tidak berapa lama Alexa pun siuman. “Aku dimana?” tanya Alexa lirih.
“Kamu dirumah sakit”
“Calvin..Calvin dimana?
“Buat apa kamu mencari orang yang tidak tau diri itu?!” ucap Gary dengan nada kesal.
Alexa tidak dapat berkata-kata lagi. Perlahan-lahan ia menetekan air mata.
“Udah Lex, yang penting kamu sembuh dulu.” Giselle berusaha menenangkan Alexa.
Keesokan harinya Alexa mulai masuk sekolah lagi. Saat melewati koridor sekolah Alexa dan Calvin berpapasan tetapi Calvin tidak menghiraukan Alexa yang saat itu menatapnya berharap Calvin menyapanya. Tiba-tiba...Gary muncul dan meninju wajah Calvin. Calvin seraya tersentak kaget.
“Kamu…enyah dari sini! Aku benci banget liat muka kamu!”
Calvin hanya tersenyum sinis seraya meninggalkan mereka berdua. Gary sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi pada Alexa, akhirnya Gary pun memberanikan diri mengungkapkan perasaannya kepada Alexa.
“Lex…sebenarnya aku tuh suka ama kamu. Aku cinta ama kamu. Aku rela ngorbanin nyawa aku buat kamu asalkan kamu mau nerima aku jadi pacarmu”
Alexa hanya menatap Gary dengan tatapan kosong.
“Lex, aku mohon jawab aku” Gary memegang tangan Alexa. gary sangat terkejut karena tangan Alexa berkeringat dingin sekali.
“Tangan kamu…kamu kenapa Lex?” tanya Gary.
“maaf…maaf…maaf…” jawab Alexa terbata-bata.
“Maaf kenapa Lex, apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?”
“Aku nggak bisa nerima kamu.”
Seketika Gary melepaskan genggamannya, “Karena Calvin? Kenapa sih kamu masih mengharapkan orang yang tidak tau diri itu?!”
“Bukan…bukan karena dia”
“Terus” Gary semakin penasaran.
“Aku..umur aku sudah tidak lama lagi.” ujar Alexa seraya berlari meninggalkan Gary.
Gary hanya terpaku menatap kepergian Alexa dengan penuh tanda tanya besar.
Sepulang sekolah Alexa mengajak Giselle ke pantai yang sangat indah dengan pemandangan sunsetnya.
“Ada apa Lex ngajak aku kesini?” tanya Giselle seraya duduk disebuah batu besar dan kemudian tangannya memetik bunga yang tumbuh disamping batu itu.
“Sebentar lagi hari ke 100 aku di SMA terus di hari itu aku ulang tahun. Kira-kira aku masih bisa nggak ya ngelewatin hari itu?”
“Ngomong apa sih? Ngawur kamu” jawab Giselle yang bingung dengan ucapan sahabatnya.
“Kamu sedih nggak kalo aku pergi?” tanya Alexa.
“Pergi kemana? Keluar kota?” jawab Giselle seraya tertawa kecil.
“Aku serius” ucap Alexa seraya menatap mata Giselle dalam seperti ingin mengatakan sesuatu yang penting sekali.
“waduh…kamu kenapa sih?” Giselle semakin dibuat bingung oleh ucapan Alexa.
Giselle tiba-tiba menyadari maksud ucapan Alexa, “ Hey…jangan ngomong macam-macam dong. Memangnya kamu kenapa? Kalo ada masalah cerita dong!”
Alexa membalikan badannya menatap matahari yang sebentar lagi akan tenggelam. Langit senja memberi kedamaian dihatinya. “walaupun aku akan pergi, aku akan kembali lagi untuk kamu. Dengerin suara aku ya….”
Tanpa banyak basa-basi lagi, Giselle memeluk erat sahabatnya itu yang menandakan dia tidak ingin kehilangan sahabatnya yang paling dicintainya. Giselle menangis dipelukan Alexa. “Gis…jangan menangis lagi ya”
Diwaktunya yang semakin sedikit, Alexa berpikir bagaimana caranya agar Calvin mau menganggapnya berarti di dalam kehidupan Calvin. Maka dari itu alexa berencana untuk menolong Calvin secara diam-diam. Saat Calvin terlambat ke sekolah dan ia di hukum lari lapangan 50 kali, Alexa berusaha menjelaskan alasan mengapa Calvinvin terlambat kepada guru piket. Dan akhirnya Calvinvin pun dibebaskan dari hukuman. Saat buku PR Calvinvin hilang, Alexa juga membantunya. Alexa meletakkan buku PR Calvin itu di laci meja Calvin saat Calvin sedang sibuk mencari – cari. Alexa menemukan buku PR itu secara tidak sengaja di koridor sekolah. Mungkin terjatuh saat Calvin terburu – buru paginya.
Hingga pada suatu hari saat istirahat Calvin mendengar suara yang sangat merdu. Calvin mencari – cari asal suara itu dan ia mendapati suara merdu itu berasal Alexa. Alexa sedang menyanyi di taman sekolah.
“ Suara mu bagus juga ya ternyata”, ujar Calvin mengagetkan.
“ Ah.. kamu bisa aja. Tumben nyapa. Ada apa?”
“ Nggak apa – apa. Aku hanya ingin mendengar kamu bernyanyi” lanjut Calvin lagi sambil tersenyum.
“ Kenapa kemaren kamu nggak ikut audisi pemilihan vocalis bandku? Padahal aku mencari –cari suara kaya kamu” tanya Calvin lagi.
“ Em..aku nggak bisa” sahut Alexa lirih.
“ Hah? Kenapa bisa???”
Belum sempat Alexa menjawab tiba – tiba Alexa tersungkur ketanah sambil memegangi dadanya. Ia terlihat sangat kesakitan. Calvin sangat terkejut dan panik. Ia hanya bisa bertanya kenapa..kamu kenapa.
Giselle dan Garry yang kebetulan lewat di situ melihat Alexa tersungkur lemah. “ Bodoh! Kenapa kamu nggak nolongin Alexa!!!” ujar Giselle sambil menampar Calvin.
Garry pun menggendong Alexa ke UKS.
“ Cal, apa sih mau kamu tuh? Kamu selalu membuat Alexa sakit hati padahal Alexa selalu menolong kamu.” Lanjut Giselle lagi dengan nada penuh emosi.
“ Maksud kamu apa?” Calvin bertanya karena merasa sangat bingung.
“Kamu tau nggak, selama ini yang selalu menolong kamu kalo kamu sedang kesusahan itu Alexa. Pertama dimulai saat kamu terlambat kesekolah, kamu mau tau kenapa kamu dibebaskan dari hukuman??? Itu Alexa yang ,menjelaskannya kepada guru piket! Kemudian buku PR mu yang tiba –tiba ada di laci mejamu, itu juga Alexa yang menemukannya di koridor dan meletakkannya di laci mejamu!!!” Stupid!!!!” teriak Giselle. Calvin sangat terkejut mendengar cerita Giselle, ternyata selama ini Alexa selalu menolongnya secara diam –diam sedangkan dia hanya bisa membuat Alexa kecewa. Cal pun berlari meninggalkan Giselle.
“ You are Loser, Cal” teriak Giselle.
Giselle pun segera menelpon orang tua Alexa, walaupun Alexa pasti akan memarahinya tapi itu untuk kebaikannnya juga. Orang tua Alexa tentu saja sangat shock saat mengetahui kondisi Alexa dan kemudian Alexa dibawa ke rumah sakit. Selama di rumah sakit Alexa selalu memanggil nama Calvin. Kemudian mamanya Alexa pun menyuruh Giselle untuk menghubungi orang yang bernama Calvin itu. Dengan berat hati akhirnya Giselle menelpon Calvin. Tak berapa lama akhirnya Calvin pun datang. Dengan perlahan ia masuk keruangan Alexa, terlihat Alexa yang terbaring lemah tak sadarkan diri sejak 3 hari yang lalu.Kemudian Calvin duduk disebelah tempat tidur alexa.
“ Alexa, buka matamu. Aku mohon…maafkan aku.” Ujar Calvin pelan.
Tak berapa lama jari-jemari Alexa mulai bergerak. Semua orang yang berada di ruangan itu sangat senang karena akhirnya Alexa siuman.
“ Calvin…aku pengen keluar. Aku pengen menghirup udara segar bersamamu.” Ujarnya pelan.
“ Tapi kamu masih harus istirahat” ujar Giselle.
“ Biarkan dia, Gis” ujar mamanya Alexa. Calvin pun membentu Alexa untuk duduk di kursi roda.
Saat ditaman, Alexa menarik nafasnya dalam – dalam. Ia berterima kasih ke pada Tuhan karena sampai saat ini ia masih bernafas. “Lex, terima kasih ya. Selama ini aku baru tau ternyata kamu yang telah menolong aku. Aku sangat menyesal sering membuatmu sakit hati” ujar Cal sambil memgang tangan Alexa.
“Oh….God. Cal memegang tangan ku” pikir Alexa. “ Iya Cal, aku juga berterima kasih sama kamu. Kamu udah mau nemenin aku disini.” Ujar Alexa pelan.
“Kenapa kamu nggak cerita kalau kamu sedang sakit?”.
Hufh…desah Alexa, “Aku nggak mau dibilang sakit. Karena itu aku menyembunyikan semuanya dari orang-orang disekitarku. Termasuk orang tuaku”. “Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Buktinya aku nggak apa – apa saat ini” lanjut Alexa sambil tersenyum.
Calvin merasakan penyesalan yang sangat dalam terhadap Alexa samapai – sampai matanya berkaca – kaca. “ Calvin, tau nggak hari ini adalah hari ke 100 ku saat di SMA. Aku senang selama di SMA ini aku bisa berkenalan dengan banyak orang terutama kamu. O iya. .. hari ini aku ulang tahun lho!”.
“ O..ya? Maaf ya aku nggak bawa kado. Nggak tau sih.” Ujar Cal.
“ Ya…nggak usah. Dengan adanya kamu saat ini merupakan kado terindah buat aku disaat – saat terakhir ini.” Ujar Alexa pelan. Alexa pun memeluk Calvin. Alexa menangis di bahu Calvin, dan begitu pula dengan Calvin yang tidak sadar telah neneteskan air matanya. “ Cal…terima kasih buat semuanya. Suatu saat nanti aku akan kembali untuk kamu. Dengarin suaranya…Sekarang aku sudah bisa tenang. Aku ingin istirahat, aku senang bisa istirahat di dalam pelukanmu. Love u Cal” Ujar Alexa pelan.
Setelah itu semuanya hening “ Alexa….” Panggil Cal. Tetapi tak ada jawaban lagi. “ Kenapa kamu tega meninggalkan aku disaat aku mulai menyadari bahwa aku juga mencintaimu. “ ujar Calvin sambil menangis dan memeluk Alexa dengan erat. “ Jangan tinggalkan aku. Aku bodoh karena tidak dapat menyadari perasaanku ini lebih cepat. Alexa….!!!!!!!!!” Teriak Cal.
Alexa telah tiada. Yang tersisa hanyalah kenangan Alexa yang tak akan pernah dilupakan oleh orang – orang yang dimencintainya. Semua orang sangat sedih, alam pun seakan turut sedih karena kepergian Alexa yang terlalu cepat. Tiba-tiba hujan turun, Calvin masih memeluk Alexa dengan erat sambil menangis dan meneriakan nama Alexa. Giselle melihat Alexa tersandar di bahu Calvin tanpa ada pergerakan sedikit pun yang menandakan ia benar-benar tidak bernyawa lagi, Giselle tersungkur tak berdaya melihat sahabatnya telah tiada. “Kenapa Lex? Kenapa kamu ninggalin aku? Kenapa harus secepat ini? 100 hari..tepat hari keseratus kamu meninggalkan aku. Padahal aku belum sempat mengucapakan selamat ulang tahun untuk kamu. Aku belum sempat berterima kasih kepadamu. Aku belum sempat mengucapakan salam perpisahan. Bahkan aku belum sempat memelukmu. Hari itu..saat kita di tepi pantai adalah hari terakhir aku bisa memelukmu. Aku…aku…” Bruk…Giselle tiba-tiba pingsan. Saat pingsan Giselle merasa Alexa memeluknya dan kemudian tiba-tiba melepaskan pelukannya dan pergi begitu saja. “Alexa………………….”
Beberapa bulan kemudian…Garry dan Giselle pun jadian. Calvin masih menunggu seseorang yang akan mengisi hidupnya. Ia percaya bahwa Alexa akan kembali kepadanya. Senja itu mereka bertiga berjalan – jalan dipantai untuk melihat sunset. Tiba – tiba samar – samar mereka mendengar suara yang sangat merdu. Dan mereka merasa sangat familiar dengan suara dan lagu itu. Apakah ini yang dimaksud Alexa? Gumam mereka dalam hati masing – masing. Mereka pun menghampiri gadis itu. Ya…ini dia, gumam Calvin dalam hati. Gadis yang terlihat mirip seperti Alexa.
“ Calvin, dia telah kembali. Datanglah kepadanya dan jangan pernah lepaskan dia lagi” ujar Giselle pada Calvin.
“ Ya aku mengerti” sahut Cal. “ Hai,aku Calvin. Ini sahabatku Giselle dan Garry” ujar Cal memperkenalkan diri. Gadis itu tersenyum,” Aku Alexandria May. Salam kenal…” Itulah hari pertemuan Calvin, Giselle dan Garry dengan Alexa baru. Ternyata apa yang diakatakan Alexa benar. Mungkin sebelum meninggal Alexa sudah memiliki feeling terhadap kehidupan barunya. Mereka pun akhirnya memulai kehidupan baru tanpa Alexa, tetapi bersama Alexandria…. “ Alexa..selamanya kami tidak akan pernah melupakanmu karena kami sangat mencintaimu. Kamu akan selalu ada di hati kami. Good bye Alexa….100 hari mu adalah hari yang sangat berharga bagi kami”
Mereka berempat berjalan menyusuri tepi pantai, tiba-tiba Alexandria membalikan tubuhnya dan berkata, “Friends,aku kembali lagi”.
“Cie...kenapa nih kok ngelamun ditengah koridor kaya gini? Habis ngeliat apaan?” tanya Giselle.
“Malaikat, Gis...” jawab Alexa singkat.
“Malaikat kesiangan kaleee... Udah ah gak usah ngelamun entar kesambet lho!”
“Biarin asalkan aku bisa dapetin tu cowok”
“O...ternyata cowok. Pantesan... ya udah deh terserah kamu aja. Aku sih iya..iya aja” canda Giselle. Mereka berdua pun melangkah masuk ke kelas.
Saat pelajaran berlangsung tiba-tiba seorang cowok mengetuk pintu kelas Alexa. “ Permisi, bisa bicara sebentar dengan yang bernama Alexa?” tanyanya.
“Calvin?” pekiknya. Alexa pun menghampiri Calvin. “ Ada apa?” tanya Alexa.
“Entar pulang sekolah bareng aku ya!” pintanya.
“Eh..kak. Tapi...”
Belum sempat Alexa menyelesaikan kata-katany, Calvin memotong “Udahlah gak usah gitu. Aku tau kamu mau” ujarnya seraya mengedipkan mata. Alexa tertegun, dan akhirnya dia mengangguk setuju.
Sepulang sekolah, sesuai janji Calvin sudah menunggu Alexa diparkiran sekolah.
“Buruan naik gih” pinta Calvin seraya menghidupkan sepeda motornya.
Mereka berdua pun berjalan mengelilingi kota. Dan mereka berhenti di sebuah resto untuk makan.
“Kamu percaya gak cinta pada pandangan pertama?” tanya Calvin seraya menggombal.
Alexa hanya tersipu malu tanpa menjawab.
Tiba-tiba Calvin memegangi tangan Alexa,”Lex, kamu mau nggak jadi cewek ku?”
Tentu saja Alexa terkejut sekali. Tetapi dengan cepat dia menjawab mau karena dia tidak ingin kesempatan ini dibiarkan saja.
Sesampainya di rumah,” Gis...aku jadian ama Calvin”
“Sumpeh lo? yang bener aja...kalian juga baru kenal. Hati-hati sakit hati...”
“Ya nggak bakalan” jawab Alexa santai.
Keesokan harinya,Giselle pergi ke perpustakaan sendirian tanpa ditemani Alexa. tanpa sengaja, Gisellle melihat Calvin sedang berdua-duaan dengan seorang cewek yang tentu itu bukan Alexa. “Itu siapanya ya?” gumamnya. “ Jangan-jangan...” Giselle dengan cepat berlari mencari Alexa denagn maksud ingin memberitahukan hal tersebut kepada Alexa.
“Lex, diperpus tadi aku melihat Calvin sedang berdua-duaan dengan sorang cewek, mesra banget!” jelas Giselle.
“Kamu jangan mengada-ada deh! Aku tau kamu nggak suka kan kalo aku jadian dengan Calvin”
“Tapi Lex…”
“Udah..mulai sekarang kita udah nggak sahabatan lagi.” teriak Alexa pada Giselle. Alexa pergi meninggalkan Giselle. “ Aku ngomong apa adanya,Lex…”
Karena penasaran Alexa pun berlari ke arah perpustakaan. Dia terkejut melihat Calvin sedang bermesraan dengan seorang cewek. “Kurang ajar” geramnya seraya meninggalkan perpustakaan itu. Karena merasa bersalah Alexa pun berlari mencari Giselle.
“Gis…maafin aku” Alexa berlari memeluk Giselle.
“Eh..kenapa nih?” tanya Giselle terkejut.
“Benar katamu, Calvin emang penipu!”
“ya sudahlah… yang penting kamu sudah tau.” ujar Giselle berusaha menenangkan Alexa yang menangis tersedu-sedu.
Beberapa hari kemudian ada berita mengejutkan yang diterima Alexa. Setelah check up ke dokter karena merasa ada yang aneh dengan tubuhnya ternyata selama ini dia mengidap penyakit jantung. Sungguh sedih bukan kepalang si Alexa saat mengetahui penyakitnya itu. Alexa tidak ingin orang-orang terdekatnya tau, apalagi orang tuanya. maka dari itu Alexa berusaha keras menutup-nutupi penyakitnya itu.
Kondisi Alexa semakin melemah, disaat itu muncul sorang cowok bernama Gary. Dia adalah kakak kelas Alexa yang ternyata menyukai Alexa dan sering memperhatikan Alexa. Saat ditaman…
“Hai Alexa…entar malem ada waktu nggak?” tanya gary.
“Emangnya kenapa, kak?”
“Aku pengen ngajak kamu jalan. Maukan?”
“Hm…oke deh.lagian aku nggak ada kegiatan juga malam ini.” jawab Alexa.
“Aku tunggu di taman kota jam 7,oke?” ucap Gary seraya berlalu.
Pada malam harinya sesuai janji mereka ketemuan di taman. Saat menunggu Gary tanpa sengaja Alexa melihat Calvin sedang diserang sekawanan preman. Alexa pun berlari menghampiri Calvin, dan tiba-tiba…sebuah pisau lipat tertusuk di punggung Alexa. dan seketika Alexa pun tersungkur ketanah. Melihat kejadian itu, para preman itu kabur tanpa mempertanggung jawabkan perbuatannya. Calvin hanya ternganga tanpa melakukan apa-apa melihat Alexa yang tersungkur tidak berdaya di tanah. gary yang melihat hal itu langsung berlari kearah Alexa dan segera menelpon Giselle. Tidak berapa lama Giselle datang beserta mobil ambulan. Gary tidak ikut mengantar Alexa ke rumah sakit, dia malah menantang Calvin untuk berkelahi. Dia tidak terima melihat Calvin yang tidak dengan segera menolong Alexa. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, dan mereka berdua pun berkelahi dibawah hujan yang cukup lebat.
“Heh kamu…gak bisa mikir atau emang nggak punya otak? tanya Gary penuh dengan emosi.
“Mulut kamu di jaga ya!”
“Kenapa kamu nggak menolong Alexa yang udah nyelamatin nyawa kamu?!”
“Untuk apa…? Dia bukan siapa-siapa aku!” jawab Calvin dengan geram.
Tanpa basa basi lagi Gary melemparkan pukulan yang kuat ke wajah Calvinsehingga Calvin tersungkur.
“Itu buat Alexa!”
Gary pun segera menyusul ke rumah sakit. Sesampainya di ruangan Alexa, Gary melihat Alexa yang terbaring lemah tidak berdaya dan Giselle yang sedang menangis menggenggam tangan Alexa.
“Gimana keadaan Alexa?” tanya Gary dalam keadaan basah kuyup.
“Gak tau. Dia hanya tertidur. Jangan telepon orang tuanya ya…Alexa tidak mau orang tuanya kawatir.” ujar Giselle.
Tidak berapa lama Alexa pun siuman. “Aku dimana?” tanya Alexa lirih.
“Kamu dirumah sakit”
“Calvin..Calvin dimana?
“Buat apa kamu mencari orang yang tidak tau diri itu?!” ucap Gary dengan nada kesal.
Alexa tidak dapat berkata-kata lagi. Perlahan-lahan ia menetekan air mata.
“Udah Lex, yang penting kamu sembuh dulu.” Giselle berusaha menenangkan Alexa.
Keesokan harinya Alexa mulai masuk sekolah lagi. Saat melewati koridor sekolah Alexa dan Calvin berpapasan tetapi Calvin tidak menghiraukan Alexa yang saat itu menatapnya berharap Calvin menyapanya. Tiba-tiba...Gary muncul dan meninju wajah Calvin. Calvin seraya tersentak kaget.
“Kamu…enyah dari sini! Aku benci banget liat muka kamu!”
Calvin hanya tersenyum sinis seraya meninggalkan mereka berdua. Gary sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi pada Alexa, akhirnya Gary pun memberanikan diri mengungkapkan perasaannya kepada Alexa.
“Lex…sebenarnya aku tuh suka ama kamu. Aku cinta ama kamu. Aku rela ngorbanin nyawa aku buat kamu asalkan kamu mau nerima aku jadi pacarmu”
Alexa hanya menatap Gary dengan tatapan kosong.
“Lex, aku mohon jawab aku” Gary memegang tangan Alexa. gary sangat terkejut karena tangan Alexa berkeringat dingin sekali.
“Tangan kamu…kamu kenapa Lex?” tanya Gary.
“maaf…maaf…maaf…” jawab Alexa terbata-bata.
“Maaf kenapa Lex, apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?”
“Aku nggak bisa nerima kamu.”
Seketika Gary melepaskan genggamannya, “Karena Calvin? Kenapa sih kamu masih mengharapkan orang yang tidak tau diri itu?!”
“Bukan…bukan karena dia”
“Terus” Gary semakin penasaran.
“Aku..umur aku sudah tidak lama lagi.” ujar Alexa seraya berlari meninggalkan Gary.
Gary hanya terpaku menatap kepergian Alexa dengan penuh tanda tanya besar.
Sepulang sekolah Alexa mengajak Giselle ke pantai yang sangat indah dengan pemandangan sunsetnya.
“Ada apa Lex ngajak aku kesini?” tanya Giselle seraya duduk disebuah batu besar dan kemudian tangannya memetik bunga yang tumbuh disamping batu itu.
“Sebentar lagi hari ke 100 aku di SMA terus di hari itu aku ulang tahun. Kira-kira aku masih bisa nggak ya ngelewatin hari itu?”
“Ngomong apa sih? Ngawur kamu” jawab Giselle yang bingung dengan ucapan sahabatnya.
“Kamu sedih nggak kalo aku pergi?” tanya Alexa.
“Pergi kemana? Keluar kota?” jawab Giselle seraya tertawa kecil.
“Aku serius” ucap Alexa seraya menatap mata Giselle dalam seperti ingin mengatakan sesuatu yang penting sekali.
“waduh…kamu kenapa sih?” Giselle semakin dibuat bingung oleh ucapan Alexa.
Giselle tiba-tiba menyadari maksud ucapan Alexa, “ Hey…jangan ngomong macam-macam dong. Memangnya kamu kenapa? Kalo ada masalah cerita dong!”
Alexa membalikan badannya menatap matahari yang sebentar lagi akan tenggelam. Langit senja memberi kedamaian dihatinya. “walaupun aku akan pergi, aku akan kembali lagi untuk kamu. Dengerin suara aku ya….”
Tanpa banyak basa-basi lagi, Giselle memeluk erat sahabatnya itu yang menandakan dia tidak ingin kehilangan sahabatnya yang paling dicintainya. Giselle menangis dipelukan Alexa. “Gis…jangan menangis lagi ya”
Diwaktunya yang semakin sedikit, Alexa berpikir bagaimana caranya agar Calvin mau menganggapnya berarti di dalam kehidupan Calvin. Maka dari itu alexa berencana untuk menolong Calvin secara diam-diam. Saat Calvin terlambat ke sekolah dan ia di hukum lari lapangan 50 kali, Alexa berusaha menjelaskan alasan mengapa Calvinvin terlambat kepada guru piket. Dan akhirnya Calvinvin pun dibebaskan dari hukuman. Saat buku PR Calvinvin hilang, Alexa juga membantunya. Alexa meletakkan buku PR Calvin itu di laci meja Calvin saat Calvin sedang sibuk mencari – cari. Alexa menemukan buku PR itu secara tidak sengaja di koridor sekolah. Mungkin terjatuh saat Calvin terburu – buru paginya.
Hingga pada suatu hari saat istirahat Calvin mendengar suara yang sangat merdu. Calvin mencari – cari asal suara itu dan ia mendapati suara merdu itu berasal Alexa. Alexa sedang menyanyi di taman sekolah.
“ Suara mu bagus juga ya ternyata”, ujar Calvin mengagetkan.
“ Ah.. kamu bisa aja. Tumben nyapa. Ada apa?”
“ Nggak apa – apa. Aku hanya ingin mendengar kamu bernyanyi” lanjut Calvin lagi sambil tersenyum.
“ Kenapa kemaren kamu nggak ikut audisi pemilihan vocalis bandku? Padahal aku mencari –cari suara kaya kamu” tanya Calvin lagi.
“ Em..aku nggak bisa” sahut Alexa lirih.
“ Hah? Kenapa bisa???”
Belum sempat Alexa menjawab tiba – tiba Alexa tersungkur ketanah sambil memegangi dadanya. Ia terlihat sangat kesakitan. Calvin sangat terkejut dan panik. Ia hanya bisa bertanya kenapa..kamu kenapa.
Giselle dan Garry yang kebetulan lewat di situ melihat Alexa tersungkur lemah. “ Bodoh! Kenapa kamu nggak nolongin Alexa!!!” ujar Giselle sambil menampar Calvin.
Garry pun menggendong Alexa ke UKS.
“ Cal, apa sih mau kamu tuh? Kamu selalu membuat Alexa sakit hati padahal Alexa selalu menolong kamu.” Lanjut Giselle lagi dengan nada penuh emosi.
“ Maksud kamu apa?” Calvin bertanya karena merasa sangat bingung.
“Kamu tau nggak, selama ini yang selalu menolong kamu kalo kamu sedang kesusahan itu Alexa. Pertama dimulai saat kamu terlambat kesekolah, kamu mau tau kenapa kamu dibebaskan dari hukuman??? Itu Alexa yang ,menjelaskannya kepada guru piket! Kemudian buku PR mu yang tiba –tiba ada di laci mejamu, itu juga Alexa yang menemukannya di koridor dan meletakkannya di laci mejamu!!!” Stupid!!!!” teriak Giselle. Calvin sangat terkejut mendengar cerita Giselle, ternyata selama ini Alexa selalu menolongnya secara diam –diam sedangkan dia hanya bisa membuat Alexa kecewa. Cal pun berlari meninggalkan Giselle.
“ You are Loser, Cal” teriak Giselle.
Giselle pun segera menelpon orang tua Alexa, walaupun Alexa pasti akan memarahinya tapi itu untuk kebaikannnya juga. Orang tua Alexa tentu saja sangat shock saat mengetahui kondisi Alexa dan kemudian Alexa dibawa ke rumah sakit. Selama di rumah sakit Alexa selalu memanggil nama Calvin. Kemudian mamanya Alexa pun menyuruh Giselle untuk menghubungi orang yang bernama Calvin itu. Dengan berat hati akhirnya Giselle menelpon Calvin. Tak berapa lama akhirnya Calvin pun datang. Dengan perlahan ia masuk keruangan Alexa, terlihat Alexa yang terbaring lemah tak sadarkan diri sejak 3 hari yang lalu.Kemudian Calvin duduk disebelah tempat tidur alexa.
“ Alexa, buka matamu. Aku mohon…maafkan aku.” Ujar Calvin pelan.
Tak berapa lama jari-jemari Alexa mulai bergerak. Semua orang yang berada di ruangan itu sangat senang karena akhirnya Alexa siuman.
“ Calvin…aku pengen keluar. Aku pengen menghirup udara segar bersamamu.” Ujarnya pelan.
“ Tapi kamu masih harus istirahat” ujar Giselle.
“ Biarkan dia, Gis” ujar mamanya Alexa. Calvin pun membentu Alexa untuk duduk di kursi roda.
Saat ditaman, Alexa menarik nafasnya dalam – dalam. Ia berterima kasih ke pada Tuhan karena sampai saat ini ia masih bernafas. “Lex, terima kasih ya. Selama ini aku baru tau ternyata kamu yang telah menolong aku. Aku sangat menyesal sering membuatmu sakit hati” ujar Cal sambil memgang tangan Alexa.
“Oh….God. Cal memegang tangan ku” pikir Alexa. “ Iya Cal, aku juga berterima kasih sama kamu. Kamu udah mau nemenin aku disini.” Ujar Alexa pelan.
“Kenapa kamu nggak cerita kalau kamu sedang sakit?”.
Hufh…desah Alexa, “Aku nggak mau dibilang sakit. Karena itu aku menyembunyikan semuanya dari orang-orang disekitarku. Termasuk orang tuaku”. “Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Buktinya aku nggak apa – apa saat ini” lanjut Alexa sambil tersenyum.
Calvin merasakan penyesalan yang sangat dalam terhadap Alexa samapai – sampai matanya berkaca – kaca. “ Calvin, tau nggak hari ini adalah hari ke 100 ku saat di SMA. Aku senang selama di SMA ini aku bisa berkenalan dengan banyak orang terutama kamu. O iya. .. hari ini aku ulang tahun lho!”.
“ O..ya? Maaf ya aku nggak bawa kado. Nggak tau sih.” Ujar Cal.
“ Ya…nggak usah. Dengan adanya kamu saat ini merupakan kado terindah buat aku disaat – saat terakhir ini.” Ujar Alexa pelan. Alexa pun memeluk Calvin. Alexa menangis di bahu Calvin, dan begitu pula dengan Calvin yang tidak sadar telah neneteskan air matanya. “ Cal…terima kasih buat semuanya. Suatu saat nanti aku akan kembali untuk kamu. Dengarin suaranya…Sekarang aku sudah bisa tenang. Aku ingin istirahat, aku senang bisa istirahat di dalam pelukanmu. Love u Cal” Ujar Alexa pelan.
Setelah itu semuanya hening “ Alexa….” Panggil Cal. Tetapi tak ada jawaban lagi. “ Kenapa kamu tega meninggalkan aku disaat aku mulai menyadari bahwa aku juga mencintaimu. “ ujar Calvin sambil menangis dan memeluk Alexa dengan erat. “ Jangan tinggalkan aku. Aku bodoh karena tidak dapat menyadari perasaanku ini lebih cepat. Alexa….!!!!!!!!!” Teriak Cal.
Alexa telah tiada. Yang tersisa hanyalah kenangan Alexa yang tak akan pernah dilupakan oleh orang – orang yang dimencintainya. Semua orang sangat sedih, alam pun seakan turut sedih karena kepergian Alexa yang terlalu cepat. Tiba-tiba hujan turun, Calvin masih memeluk Alexa dengan erat sambil menangis dan meneriakan nama Alexa. Giselle melihat Alexa tersandar di bahu Calvin tanpa ada pergerakan sedikit pun yang menandakan ia benar-benar tidak bernyawa lagi, Giselle tersungkur tak berdaya melihat sahabatnya telah tiada. “Kenapa Lex? Kenapa kamu ninggalin aku? Kenapa harus secepat ini? 100 hari..tepat hari keseratus kamu meninggalkan aku. Padahal aku belum sempat mengucapakan selamat ulang tahun untuk kamu. Aku belum sempat berterima kasih kepadamu. Aku belum sempat mengucapakan salam perpisahan. Bahkan aku belum sempat memelukmu. Hari itu..saat kita di tepi pantai adalah hari terakhir aku bisa memelukmu. Aku…aku…” Bruk…Giselle tiba-tiba pingsan. Saat pingsan Giselle merasa Alexa memeluknya dan kemudian tiba-tiba melepaskan pelukannya dan pergi begitu saja. “Alexa………………….”
Beberapa bulan kemudian…Garry dan Giselle pun jadian. Calvin masih menunggu seseorang yang akan mengisi hidupnya. Ia percaya bahwa Alexa akan kembali kepadanya. Senja itu mereka bertiga berjalan – jalan dipantai untuk melihat sunset. Tiba – tiba samar – samar mereka mendengar suara yang sangat merdu. Dan mereka merasa sangat familiar dengan suara dan lagu itu. Apakah ini yang dimaksud Alexa? Gumam mereka dalam hati masing – masing. Mereka pun menghampiri gadis itu. Ya…ini dia, gumam Calvin dalam hati. Gadis yang terlihat mirip seperti Alexa.
“ Calvin, dia telah kembali. Datanglah kepadanya dan jangan pernah lepaskan dia lagi” ujar Giselle pada Calvin.
“ Ya aku mengerti” sahut Cal. “ Hai,aku Calvin. Ini sahabatku Giselle dan Garry” ujar Cal memperkenalkan diri. Gadis itu tersenyum,” Aku Alexandria May. Salam kenal…” Itulah hari pertemuan Calvin, Giselle dan Garry dengan Alexa baru. Ternyata apa yang diakatakan Alexa benar. Mungkin sebelum meninggal Alexa sudah memiliki feeling terhadap kehidupan barunya. Mereka pun akhirnya memulai kehidupan baru tanpa Alexa, tetapi bersama Alexandria…. “ Alexa..selamanya kami tidak akan pernah melupakanmu karena kami sangat mencintaimu. Kamu akan selalu ada di hati kami. Good bye Alexa….100 hari mu adalah hari yang sangat berharga bagi kami”
Mereka berempat berjalan menyusuri tepi pantai, tiba-tiba Alexandria membalikan tubuhnya dan berkata, “Friends,aku kembali lagi”.




0 komentar:
Posting Komentar