April 22, 2010

Solidarity to Death

Kriiiing.. bel masuk sekolah sudah berbunyi. “OMG…aku lupa PR Matematika!!! Mana habis ini pelajaran itu lagi! Waduh..mampus aku!”, teriak seorang cewek dengan tampang berantakan tampak sangat gelisah sekali. “Makanya kalo malam tuh belajar! Ini malah Facebookan, nonton, ngelakuin sesuatu yang gak penting, cape deh… Ini sudah semester 2, katanya mau berubah” ujar salah satu sahabat Chan, cewek yang sibuk dengan prnya tadi. Chan masih sibuk mencari pinjaman, dari dahinya keringat dingin pun bercucuran. “Marry…pinjem pr kamu dong. Hehehe..”, ujar Chan kepada Marry sahabatnya yang tadi menasehati dia. “No way! Usaha sendiri!” ujar Marry menolak. Chan pun memasang wajah rayuan anjing yang sebenarnya lebih mirip anjing yang pengen pup untuk mendapatkan pinjaman dari Marry. “Tampang face mu itu gak ada pengaruhnya buat aku.” Marry hanya tertawa. Karena tidak diberi pinjaman Chan pun mencari pinjaman dengan teman yang lain.
Pada saat PR selesai dikoreksi ternyata nilai Marry lebih rendah padahal dia mengerjakannya sendiri dengan susah payah sampai larut malam. Sedangkan Chan yang baru ngerjain PR itu tadi pagi mendapatkan nilai 100. Chan pun menjadi tidak enak hati kepada Marry. Saat dirumah Chan pun buru-buru online untuk mengupdate status. “Keep my best friend feeling more important than getting a perfect score like this morning…Im so sorry friend” Chan ingin memberitahukan perasaannya kepada Marry saat kejadian tadi pagi. Chan sangat menyesal, dia berpikir bahwa dirinya curang sekali. Padahal Marry bersusah payah mengerjakan pr itu, tetapi nilainya sangat tidak memuaskan. Ternyata Marry menbaca status Chan, dan dia hanya tersenyum.
Keesokan harinya, “Ehm…ehm…ada yang menyesal nih ceritanya”, sindir Marry sambil tertawa. Chan hanya terdiam dan tidak merespon. “Kenapa lagi nih anak, jangan-jangan kesambet kali ya.” Pikir Marry seraya menyadarkan Chan. “Kenapa Marry?” tanya Chan sambil melepas headset dari telinganya. “Halah..halah..sampai kiamat aku manggil-manggil,kamu gak bakal dengar!”, ujar Marry sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Kita ke kantin yuk! Pengen beli donat”, sambung Marry lagi. “Sekalian ajak Freya sama Pinkers aja.” Sahut Chan. Mereka berempat pun pergi ke kantin. Sesampainya dikantin,”Eh Marry ada si itu tuh…” ujar Chan sambil menunjuk seorang cowok yang duduk di bawah pohon. “Emangnya kenapa?” tanya Marry. “Hellow…Yellow.. itukan cowok yang di kagumi dan di puja-puja si Chan” jawab Freya dengan gaya lebaynya. “Sttt.. itukan cowok idaman Marry” potong Chan. Chan tau kalo Marry juga suka dengan Edward, nama cowok itu. Tiba-tiba semua terdiam. “Woi…daripada bengong kaya gini mending nongkrong di tempat biasa yuk!” ujar Pinkers memecahkan keheningan. “Ya udah”, jawab yang lain.
Mereka berempat pun menuju ke sebuah tempat dimana tempat itu hanya mereka yang tau. Marry tampaknya masih memikirkan masalah tadi. “Marry, tenang aja. Edward buat kamu aja. Aku bisa cari yang lain”, bisik Chan pada Marry. Marry pun tersadar dari lamunannya, “Apa sih Chan?”, ujarnya. “Daripada diem-dieman kaya gini mending foto-foto yuk!” ajak Freya. “Dasar narsis!”, ujar Marry sambil beranjak dari tempat duduknya. Tiba- tiba saat mereka sedang asyik berfoto, Chan tiba-tiba terjatuh dengan nafas terengah-engah. “Kanapa Chan?” tanya Marry kaget seraya membantu Chan berdiri. “Ah, nggak ada apa-apa. Lanjutin aja foto-fotonya. Aku mau ke toilet dulu. Ada yang aneh dengan Chan.” pikir Marry. Karena penasaran Marry pun mengikuti Chan. Ternyata Chan bukannya ke toilet tetapi dia pergi kekelas. Chan mengambil sesuatu dari tasnya dan meminum sebuah obat. “Obat apa itu?” pikir Marry dalam hati. Karena takut ketahuan Marry langsung beranjak dari pintu kelas. Chan hanya duduk di kelas sambil menggenggam kedua tangannya. Tampak gelisah sekali. “Mereka nggak boleh tau”, ujar Chan. Marry yang melihat Chan keluar dari kelas langsung berlari menuju tas Chan dan mengambil obat itu. “Obat apa ini? jangan-jangan Chan..” pikir Marry dengan ekspresi penasaran. Saat Marry melihat Chan kembali menuju ke kelas Marry langsung pergi keluar. Chan yang melihat Marry keluar kelas dengan ekspresi panik berkata “Hm… kenapa tu anak. Kaya habis ngelihat setan aja”.
Keesokan harinya , “Besok Marry ulang tahun. Aku harus kasih kejutan nih. Chan pun mencari Edward dengan maksud minta pertolongan Edward untuk menyiapkan kejutan untuk Marry”, Edward…kamu nanti sore sibuk gak? Mau bantuin aku nggak?”, tanya Chan. Edward yang sedang asyik memutar-mutar stik drumnya pun menjawab, “Apaan?”. Chan pun membisikkan rencananya. “Ide kamu bagus juga. Aku bantu deh!” ujar Edward dengan semangatnya. Sore harinya Chan dan Edward ke mall mencari properti untuk kejutannya itu. Tanpa sengaja Freya dan Pinkers yang kebetulan sedang shoping di mall itu melihat Chan dan Edward berduaan. “Hellow…Yellow…itu mereka berdua ngapain? Jangan-jangan mereka pacaran lagi!” ujar Freya sambil menunjuk kearah Chan dan Edward yang sedang sibuk memilih – milih barang. “Sialan banget sih tu anak! Merebut cowok sahabat sendiri”, lanjut Pinkers seraya mengambil BBnya dengan maksud memberitahukan apa yang dia dan Freya liat.
Keesokan harinya mereka pun mempersiapkan semua keperluannya. Chan juga meminta pertolongan kepada mamanya Marry. Mereka bekerja dengan keras. Chan dan mamanya Marry membuatkan kue ulang tahun dan makanan, sedangkan Edward menghiasi ruangan. Tentu saja pengerjaan itu tanpa sepengetahuan Marry karena Marry sedang les piano. Malam pun tiba, saat Marry membuka pintu semua gelap. “Tumben udah pada tidur” pikirnya. Marry pun menghidupkan lampu, “Happy Birthday to you..Happy Birthday Marry”, semua orang menyanyikan lagu Happy Birthday untuk Marry. Marry tentu saja sangat terkejut dan senang sekali. “ Selamat ulang tahun sayang”, ujar mamanya Marry seraya memeluk dan mencium pipi Marry. “ Ini semua idenya Chan lho” lanjut mama Marry. Marry tentu saja sangat terkejut. Ekspresi Marry yang mulanya penuh dengan kebahagian tiba-tiba berubah menjadi amarah. Seakan-akan dia baru saja melihat pembunuh berdarah dingin. “ Ngapain kamu susah-susah buat ginian? Dasar penghianat! Kamu tuh udah menusuk sahabatmu sendiri dari belakang! Jahat!” teriak Marry secara tiba-tiba. Semua tamu undangan terkejut terutama Chan. “Kamu ngomong apa sih? Aku nggak ngerti”, ujar Chan yang masih kebingungan. “Halah..nggak usah pasang tampang innocent gitu deh! Nggak berpengaruh! Freya dan Pinkers udah ngeliat kamu berdua-duaan di mall. Kamu dengan Edward! Padahal kamu tau kalo aku tuh suka sama Edward. Tapi kenapa kamu merebutnya dariku?! Kenapa?! Freya nggak mungkin bohong!” Teriak Marry seraya meneteskan air mata. “Aku nggak perbah menghianati kamu. Sekali pun tidak pernah terlintas diotakku! Aku bisa jelasin…” belum selesai Chan menjelaskan Marry menampar Chan,“Semua omongan kamu tuh bullshit!!!”. “O..iya sekalian supaya semua orang tau. Ini obat apa?” ujar Marry sambil mengeluarkan obat yang diambilnya waktu itu. “Itu..” ujar Chan tertunduk. “Kamu ngedrugkan?! Malu?! Nggak bisa jawab?!”, ujar Marry dengan ekspresi yang semakin mengerikan. “ Aku nggak pernah menghianati kamu. Sampai mati pun aku akan tetap setia sama kamu Marry. Terima kasih atas semuanya. Maafkan aku karena aku tidak bisa jujur” ujar Marry seraya berlari meninggalkan ruangan itu. Chan berlari sambil menangis. “Hah..lari sana! Pengecut?! Kamu nggak bisa jujur karena kamu takut kedokmu terbongkar?! Sudahlah! Aku nggak mau ngerayain acara ini di rumah ini. Guys.. ayo kita ke resto aja. Aku yang traktir semuanya.” ujar Marry dengan angkuhnya. “ Kamu nggak punya perasaan Marry!” ujar Edward seraya meninggalkan pesta itu. “ Pergi aja sana!” jawab Marry.
Saat di restoran, acara sangat meriah seakan- akan mereka melupakan kejadian yang baru saja terjadi. Tiba-tiba Freya mendapatkan sms, itu sms dari kakaknya Chan yang isinya seperti ini “Maaf mengganggu aktifitas kalian. Saya kakaknya Chan hanya ingin memberitahukan bahwa Chan baru saja meninggal dunia. Mohon jika Chan ada kesalah tolong di maafkan agar ia tenang di sana. Serta mohon doanya untuk Chan. Terima Kasih.” . “ Apaan nih?” Marry baca deh!”, ujar Freya sambil menyodorkan HPnya. “Halah.. paling akal-akalan dia aja supaya dianggap gak salah. Sudahlah nggak usah ditanggapin, mending kita lanjutin aja pestanya. “ ujar Marry sambil meneguk minuman ditangannya.
Keesokan harinya saat disekolah, “ Mana tuh si penghianat. Tumben nggak masuk. Takut ya? dasar pengecut!” ujar Marry seraya mengejek Chan. “Tapi Marry perasaanku kok nggak enak ya”, ujar pinkers. “ Sudahlah… nggak usah dipikirin! sambung Marry lagi. Kriiing…bel masuk pun berbunyi. Wali kelas beserta kepala sekolah pun memasuki ruangan. “Tumben pak kepsek masuk kelas kita. Ada apaan ya?” tanya Freya. “ Selamat pagi anak-anak. Hari ini teman kita Chan tidak bisa berkumpul bersama kita lagi…”, belum selesai pak kepsek berbicara Marry tiba-tiba menyela, “ hahahahaha…paling dia pindah sekolah karena malu sama kita-kita. Kan dia ketahuan ngedrug”. “ Marry, apa maksud ucapanmu itu! Itu tidak sopan! Sebenarnya Chan…Chan murid kebanggaan ibu. Chan yang periang dan penuh semangat. Sudahh…sudah…” Ibu guru tidak sanggup melanjutkan perkataannya dan malah menangis. “ Apaan sih bu? Bikin penasaran aja! Eh bu…jangan bilang kalo Chan udah meninggal. “ ujar Freya yang teringat akan isi sms malam tadi. “ Benar Frey… Hari ini dia dikuburkan” jawab pak kepsek. Tiba-tiba semua terdiam, bahkan detak jarum jam pun terdengar keras. Satu persatu murid meneteskan air mata, tetapi tidak dengan Marry. Dia malah berteriak dan berlari keluar kelas. “ Marry..kamu mau kemana? ”, tanya Pinkers yang berusaha mengejar Marry. Marry pergi keluar sekolah, karena tidak diperbolehkan oleh satpam dia sampai melompat pagar. Dia mencari taksi tetapi tidak dapat. Akhirnya dia berlari sambil berteriak dan menangis, sampai-sampai orang-orang disekitarnya menganggapnya tidak waras. Sampailah dia di rumah Chan. Tetapi sepi,”aneh” pikir Marry. Dia pun masuk kedalam. Kebetulan dia bertemu dengan pembantunya Chan. “ Bi…ke…ke…kemana se..semua or..rraaang?” tanyanya terputus-putus terdengar nafas terengah-engah. “ Mereka semua sudah ke pemakaman.”, jawab bibi. “ Oke bi…”
Sesampainya di pemakaman, suasana terasa berbeda. Semuanya seakan ikut berduka pohon-pohon bergoyang, tiba- tiba hujan turun. Marry pun berlari kearah kerumunan orang. Terlihat mama dan kakaknya Chan sangat sedih karena kehilangan orang yang paling mereka cintai. Marry hanya terdiam melihat sebuah gundukan tanah dan salib dengan tulisan nama Alexandra Chan. “ Nggak mungkin! Nggak mungkin!!! Chan!!!!!!”, teriak Marry histeris sampai tersungkur. “ Marry sudahlah…Chan sudah tenang di sana. Dia tidak ingin kita menangisi kepergiannya.” ujar kakak Chan seraya membantu Marry bangkit berdiri. “ Tidak kak…aku yang membuat Chan jadi seperti ini. Kenapa?! Kenapa…..!!!” teriak Marry lagi. Tiba – tiba…bruk! Marry pingsan. “Sahabatku…tidak ada yang perlu kamu sesali. Aku bahagia disini.” terdengar samar-samar suara itu ditelinga Marry. Marry melihat Chan tersenyum kepadanya. Saat Marry ingin memegang tangan Chan, tiba-tiba Chan menghilang. “ Chanyy!!!!” teriak Marry terbangun sambil terengah-engah. “ Chan dimana kak..? Dia dimana??” Marry hanya bisa bertanya dan bertanya. “ Kak, Chan meninggal karena apa?” tanyanya lagi. “ Chan meninggal karena serangan jantung, saat dia pulang dari rumah mu. Dia pulang sambil menangis, saat kakak tanya kenapa dia hanya tersenyum dan berkata “Kak, nanti suruh Marry lihat statusku ya” tentu saja kakak bingung. Tidak berapa lama, kakak mendengar Chan berteriak kesakitan. Kakak terkejut dan segera mendatangi dia di kamarnya. Sesampainya kakak, Chan sudah tidak bernafas lagi. Di tangannya dia memegang ini.” cerita kakak Chan seraya menyerahkan benda yang dipegang Chan saat ia meninggal. Dengan tangan yang gemetar Marry mengambil kalung yang ada inisial “CM” yaitu inisial nama Marry dan Chan. “Sampai ajalnya tiba pun dia masih ingat dengan aku.” desah Marry. “ O…iya kak. Aku melihat Chan meminum obat disekolah. Obat apa itu?” tanya Marry yang tiba-tiba teringat akan obat yang diambilnya. “ Oh..itu obat jantung. “ jawab kakak Chan. “ Astaga..aku telah salah. Aku menyebut dia ngedrug. Ya Tuhan…sahabat macam apa aku ini.” sesalnya.
Malamnya Marry melihat status Chan, mata Marry langsung berkaca-kaca. Isinya “Sampai kapan pun persahabatanku tidak akan pernah berakhir. Aku menyayangi sahabatku Marry. Aku minta maaf karena aku tidak memberitahukan kondisiku yang sebenarnya. Aku tidak mau kamu sedih. Dan masalah Edward, kejadian di mall itu aku sedang mencari bahan-bahan untuk ultahmu. Maafkan aku karena mungkin kita tidak dapat bertemu lagi. Kamu harus jadi orang sukses! C’M BestPlend4eVa” Deg…Marry terdiam. “Aku bukan sahabat yang baik! Aku tidak pantas kamu sebut sahabat, Chan! Aku sudah menuduh kamu yang bukan-bukan. Membuat kamu malu dihadapan semua orang. Bahkan disaat terkhir pun aku menyebut kamu penghianat. Padahal kamu tidak salah. Aku hanya terpancing emosi.”
Setelah beberapa hari kemudian, Marry menjadi lebih pendiam. Diajak ke kantin tidak mau. Diajak ketempat favorit tidak mau. Dia hanya duduk sendirian dikelas, memegangi kalung persahabatannya. Hingga pada suatu malam dia bermimpi bertemu dengan Chan. Chan hanya berkata, “ Sudah jangan sedih! Aku akan selalu bersama kamu, bersama kalung persahabatan kita”. Keesokan harinya Marry terlihat lebih ceria, tidak ada sedikit pun raut kesedihan di wajahnya. Yang ada hanya canda tawa. tapi anehnya dia hanya bercanda dengan kalungnya, tertawa dengan kalungnya, sampai-sampai dia meminta kepada wali kelasnya untuk mengosongkan tempat duduk Chan dan dia meletakkan kalungnya disitu seakan-akan Chan masih hidup.
10 tahun kemudian Marry sudah menjadi orang yang sukses. Sambil memandangi kalung persahabatannya ia beegumam,” Chan, aku sudah sukses. Kamu bahagiakan disana?” tiba-tiba Marry merasa ada seseorang yang memperhatikan dia dari kejauhan. Melalui kaca jendela Marry melihat seorang remaja yang wajahnya familiar dari masa remajanya. Remaja itu bergaya tomboy dan berantakan, senyumnya yang manis mengembang dari bibirnya memandang Marry yang kemudian berlalu begitu saja. “Chan…”

0 komentar:

Posting Komentar