Siang itu cuaca cukup panas. Peluh bercucuran di wajah Hikari. Padahal di kelas cukup dingin karena berAC, tetapi dia memilih untuk menyendiri di taman sekolah.
“Aku tidak mau kehilangan Izumi…” gumamnya pelan. Ia mengangkat wajahnya seraya menatap indahnya langit yang terbentang luas diatas sana.
“HIkari…” panggil Izumi mengagetkan Hikari.
“Ada apa Izumi?” tanya Hikari seraya berdiri dan menghampiri Izumi.
“Maaf…” ucap Izumi pelan.
“Maaf? Memangnya ada apa?” Hikari semakin penasaran. Ia memegang kedua tangan Izumi, tetapi ditepis oleh Izumi.
“Kita putus…” jawabnya keras seraya langsung pergi meninggalkan Hikari yang masih terpaku mendengar ucapan Izumi barusan.
Hikari hanya terdiam, dan oleng terduduk di hamparan rumput taman yang luas. Matanya perlahan mengeluarkan air mata. Ia tidak berdaya, dan hanya menatap kepergian Izumi yang telah memutuskan hubungan mereka tanpa tau apa penyebabnya.
“Kenapa Izumi…”
Saat pulang sekolah, Hikari memutuskan untuk pulang sendiri. Ia berjalan dengan gontai, ia masih memikirkan ucapan Izumi barusan.
“Izumi serius. Aku tau dia mengucapkan hal itu serius, aku melihat matanya berkata dengan serius. Tapi ia tidak bisa membohongiku melalui tatapan matanya, aku melihat mata hatimu bahwa kamu tidak akan pernah sanggup untuk mengatakan hal itu padaku. Izumi…kenapa kamu tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Aku tau kamu tidak akan sanggup untuk berpisah dariku. Jika alasannya karena gadis lain, itu tidak mungkin karena Izumi tidak pernah tertarik pada gadis lain. Pasti ada hal yang sangat serius. Baiklah, aku akan mencari tau! Izumi, aku akan menyelamatkanmu!”
Sesampainya dirumah,”Hikari…!” panggil mama.
“Ada apa ma?” Hikari menghampiri mamanya seraya mengemut permen coklat favoritnya.
“Hikari…mama rasa sekaranglah saat yang tepat untukmu bertunangan. Nanti malam kamu akan bertunangan dengan seseorang yang sejak kamu kecil sudah mama jodohkan.” jelas mama seraya mengelus rambut anaknya.
“Apa?” pekik Hikari seraya menepis tangan mamanya. “Itu tidak bisa terjadi! Mama jahat!”
“Hikari…jika kamu tidak mau menurut maka kamu bukan anak mama lagi! Kamu pasti suka kok dengan cowoknya. Mama yakin…” ucap mama sambil tersenyum kecil.
Hikari tidak menjawab, dan dengan gontai kembali ke kamarnya.
*buk buk buk* Hikari meninju boneka panda yang diberikan Izumi padanya.”Kenapa semuanya jadi begini?! Izumi memutuskan hubungan kami, mama ingin menjodohkan aku dengan seseorang yang tidak ku kenal. nanti apa lagi?” geram Hikari. Ia menghempaskan tubuhnya ke kasur dan mengangkat boneka pandanya,” Apa aku yang akan menyelamatkanmu, atau kamu yang akan menyelamatkanku?” ia menutup wajahnya dengan boneka itu dan tertidur.
“Hikari!!!!!” panggil mama membangunkan Hikari yang ketiduran.
“Ini sudah jam berapa?”
“maaf ma…aku tidak mau bertunangan” ucap Hikari memohon.
“Sudahlah jangan banyak omong, sekarang kamu bersiap-siaplah. Mama dan papa akan menunggumu dibawah.” perintah mama.
Hikari tidak bisa membantah, dan dengan terpaksa dia melakukan apa yang mama perintahkan kepadanya.
Sesampainya disebuah restoran mewah, keluarga si cowok pun menyambut kedatangan keluarga Hikari.
“Tante?” pekik Hikari terkejut karea melihat mamanya Ryu menyambut kedatangan keluarganya.
“Wah…Hikari cantik sekali.” puji mamanya Ryu seraya mengajak Hikari masuk.
Hikari tersentak melihat Ryu sedang berdiri dengan menggunakan jas putih, tampan sekali. “Apa dia tunanganku?” tanya Hikari pada mamanya.
“Iya sayang…”
Ryu hanya tersenyum dan menghampiri Hikari,”hai…kamu terkejut?”
“Apa-apaan ini Ryu?” geram Hikari seraya mendorong Ryu sampai terjutuh.
“Ah…” Ryu tersungkur dan dengan cepat kembali berdiri. Dia mengibas-ngibaskan jasnya,” Sudahlah…kamu tenang saja. Kita ini sudah dijodohkan sejak kecil, dan kita semua tau itu, kecuali kamu.”
“Kita?”
Tiba-tiba Ishida dan Izumi mucul dan menghampiri mereka,”hai Hikari, kamu cantik sekali” puji Ishida seraya tertawa.
Hikari tidak terlalu memperdulikan pujian Ishida, ia hanya menatap Izumi lekat. Seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak bisa ia katakana. Di wajah Izumi tersirat tangis, yang hanya bisa dilihat Hikari. Tetapi diluar ia tampak senang seraya menyalami Hikari.
*Plak* Hikari menepis tangan Izumi. “Bodoh…” ucap Hikari dalam hati.
Izumi terkejut, tapi kemudian menundukkan wajahnya.
“Aduh…kenapa semuanya tegang begini. ya sudah caranya kita mulai saja. Hikari, kamu berdirilah di samping Ryu.” pinta mama.
Hikari tiba-tiba saja menurut, wajahnya tiba-tiba kembali ceria lagi. ia tersenyum seraya menggandeng tangan Ryu. “Hikari…” pekik Ryu pelan.
“Ini…” mama Ryu menyerahkan dua buah cincin yang akan mereka pakai. “Ryu…pakaikanlah dijari Hikari, begitu pula sebaliknya” lanjutnya.
Tanpa ragu lagi, Ryu memasangkan cincin berlian itu kejari manis Hikari. Ryu menatap Hikari lekat,kemudian berbisik ke telinga Hikari,”Jangan ceroboh…” bisiknya singkat.
Hikari tersentak,”Apa maksudmu?” Hikari ingin menanyakan hal itu tetapi mamanya keburu menyuruhnya untuk memasangkan cincin itu ketangan Ryu. Dengan berat Hikari mengambil cincin itu dari kotaknya. Ia sudah memegang cincin itu, tapi ia hanya terpaku menatap cincin itu. ia benar-benar tidak sanggup jika ia harus memasangkan cincin itu kejari Ryu. ia pun mencuri pandangan kepada Izumi, ia melihat sekilas wajah Izumi yang tersenyum manis, tetapi hatinya terluka. “Ayo Hikari…”
Hikari menutup matanya, dan kemudian dengan cepat ia memasangkan cincin itu kejari Ryu. Tiba-tiba…*sret* “Jangan ceroboh!” ucap Ryu keras seraya menepis cincin itu. Semua yang ada disitu terkejut termasuk Hikari. Ia terkejut dan membuka kedua matanya. Dilihatnya wajah Ryu yang tampak marah bercampur kecewa. “Sudah ku katakan jangan ceroboh, apa kamu tidak mengerti juga? Izumi, Hikari…kalian berdua memang pasangan yang bodoh dan ceroboh! Izumi, saat aku mengatakan bahwa Hikari dan aku akan bertunangan kenapa kamu menyerahkan Hikari kepada ku begitu saja. Aku tau kamu pasti terluka, aku tau itu!!! Kamu hanya tidak ingin persahabatan kita hancurkan? Lagian kamu tau aku juga menyukai Hikari, tapi aku tidak selicik yang kamu kira! aku tidak mungkin merebut kekasih sahabatku sendiri. Itu perbuatan yang sangat rendah!” ucap Ryu seraya menunjuk wajah Izumi.
Izumi hanya terdiam saja.
“Hikari, kamu pun sama! Kenapa kamu masih ingin memasangkan cincin itu kejariku? Aku tau kamu nggak akan pernah sanggup melakukan hal itu. matamu, matamu menunjukkan perasaanmu. kamu tidak bisa membohongiku. 10 tahun kita bersama cukup untukku untuk mengetahui semua isi hatimu. Aku memang mencintaimu Hikari, tapi aku tidak mau kamu tersiksa seperti ini. Percuma saja jika kita menjalin hubungan tetapi cintamu hanya untuk dia. Makanya aku bilang jangan ceroboh…” ujar Ryu seraya memegang pundak Hikari.
“Sekarang pasangkanlah cincin ini kepada Izumi.” pinta Ryu.
“Tapi?”
“Lakukan saja! perintah Ryu.
Dengan cepat Hikari menghampiri Hikari dan memeluk izumi. “Izumi!”
*Bruk* mereka berdua terjatuh.
“Aduh sakit!” ucap izumi seraya memegang pinggangnya.
*sreet* Hikari menarik tangan izumi dan dengan cepat memasangkan cincin yang seharusnya diberikannya pada Ryu.
“Jangan pernah melepaskan aku lagi ya” ucap Hikari sambil memeluk erat Izumi yang masih tidak percaya dengan semua yang dialaminya.
“Hikari…” Izumi mengelus kepala Hikari. “Maafkan aku…” lanjutnya.
“*Buk!* Hikari mendorong izumi. “Dasar bodoh dan ceroboh! Tega sekali kamu menyerahkan aku pada Ryu! “
Izumi pun berdiri dan menngecup kening HIkari…”akukan sudah minta maaf.”
“Semuanya berhasil…” ucap seseorang yang berjalan dari pintu masuk. Semuanya memandangi orang itu. “Untunglah rasa persahabatan mereka lebih kuat dari pada keegoisan.” lanjut orang itu.
“Papa?!” pekik Ishida dan Izumi.
“hahaha…Himura, anak-anak kita memang seperti kita ya.” ucap papanya Hikari seraya tertawa keras.
“Maksud papa?”
“Anak-anakku semuanya. Sebenarnya kami ini sudah bersahabat sejak kecil seperti kalian. “ jelas papanya Ryu.
“Benar. Yui dan Hatori adalah orang tuanya Hikari, Shinji dan Keiko adalah orang tuanya Ryu, sedangkan aku Himura dan almarhum istriku Miyuki adalah orang tua Ishida dan Izumi. Kami semua sahabat.”
“kami hanya ingin menguji kalian saja, seberapa besar rasa persahabatan kalian. Hasilnya perfect” ucap mamanya Ryu seraya mengedipkan mata.
“Apaan sih?” tanya Ishida yang merasa sangat bingung sekali dengan penjelasan orang tua-orang tua mereka.
“Memang sebenarnya Hikari dan Ryu sudah dijodohkan saat kalian masih kecil. Kami sudah yakin Ryu dan Hikari akan cocok karena mereka berdua sangat akrab. Tetapi sebelum mendiang ibu Izumi meninggal, dia berkata bahwa Izumi dan Hikarilah yang sebenarnya saling mencintai tapi hal itu akan tampak saat mereka sudah masuk SMA. dan ramalan ibumu tepat bukan?”
“Kami juga sudah tau mengenai hubungan Hikari dan Izumi.”
“Papa…mama…” Hikari, Ryu , Izumi, dan Ishida pun berlari memeluk orang tua mereka masing-masing.
“Inilah yang kami harapkan. Kami hanya berpesan agar kalian menjaga persahabatan kalian sebaik mungkin, seperti kami menjaga persahabatan kami sampai sekarang. Pesan ayah Izumi mewakili sahabat2nya.
“Izumi…” *cup* Hikari tanpa malu mencium Izumi di depan mereka semua.
“Hey hey…aku juga dong!” pinta Ryu seraya tertawa kecil.
“Cari sendiri sana…diriku hanyalah milik izumi.”
“hahahaha…” mereka semua tertawa bahagia. Walaupun pertunangan Ryu dan Hikari gagal, tetapi akhirnya cinta Hikari dan Izumi kembali bersatu dalam ikatan pertuangan.
“Dasar pasangan yang ceroboh” ujar ishida seraya mencubit pipi Hikari dan izumi.
“Best Friend Forever…♥”
April 24, 2010
Wonderlife part 5
Diposting oleh Chii MeTz di 2:17 PM
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)




0 komentar:
Posting Komentar