April 24, 2010

Wonderlife part 3

“Pagi semua…” sapa Hikari saat mobil Ishida menjemputnya.

“Wah…Hikari sudah sembuh?” tanya Ryu riang karena melihat keadaan Hikari mulai membaik.

“Tentu saja. Kan Prince Izumi yang merawatku selama aku sakit” jawab Hikari seraya duduk disamping Izumi dan menggandeng tangan Izumi.

Ryu sangat terkejut saat melihat apa yang dilihatnya barusan,”Hikari,kamu?”

“Kenapa? Kaget? Hahaha…sekarang dia adalah milikku.” jelas Izumi seraya tertawa.

“Ryu…maaf kami lupa memberitahukan kepadamu.” ujar Ishida seraya menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.

“Syukurlah…akhirnya kalian akur juga. Sudah 10 tahun aku menunggu-nunggu hal ini.” ujarya Ryu senang.

Selama di sekolah Izumi selalu menempel pada Hikari, bahkan ia juga sering mendatangi Hikari di kelasnya. Tentu saja mereka tidak melupakan Ryu dan Ishida yang sangat mendukung hubungan mereka. Tetapi berbeda dengan Mori, cewek yang sangat menyukai Izumi ini sangat menentang hubungan mereka.

“Hai kak Izumi, sekarang kakak udah jadian ya sama Hikari? Mori memberanikan diri menanyakan hal itu pada Izumi yang sedang duduk dikantin menunggu Hikari.

“Ya…memangnya kenapa?’ tanya Izumi balik.

“Nggak apa-apa. Kok kakak bisa suka sama Hikari?” tanya Mori lagi.

“Yaah…dia cantik, pintar, dan baik…banyak deh pokoknya.” jelas Izumi singkat.

“Oh…begitu ya. ya sudah terima kasih ya kak….dah…” Mori pergi berlari meninggalkan Izumi.

Mori pergi ke WC sekolah. Ia menatap kaca, “walaupun aku tidak secantik Hikari tapi aku akan berbuat apa saja agar Izumi menjadi milikku!”

Setelah hari itu Mori tidak pernah kelihatan lagi disekolah. Katanya sih pindah sekolah. Tapi 2 minggu kemudian ada murid baru dikelas Hikari. Wajahnya sangat cantik dan mulus, seluruh cowok dikelas terpana dibuatnya.

“Hai namaku Miyu Kaname” sapanya.

Dia duduk disebelah Hikari tepat dibangku milik Mori dulu.

“Kamu pindahan dari mana?” tanya Hikari.

“Untuk apa kamu tau. Dandanan kamu aja kampungan” jawabnya ketus.

“Ih…ini cewek gayanya selangit. Bisaku tonjok juga!” geram Hikari dalam hati.

Saat istirahat, Hikari muncul di loteng sambil ngomel2.” Kamu kenapa Hi-chan?” tanya Izumi.

“Itu, di kelasku ada murid baru. Gayanya itu loh sok! Pake nyindir2 penampilanku lagi.” jawab Hikari dengan nada teriak.

“Orangnya gimana sih?” tanya Ryu penasaran.

“Nanti deh pulang sekolah aku tunjukin yang mana orangnya.”

“Sudahlah…bagi kami Hikari yang paling cantik.” rayu Ishida.

“Ehm…”

“Iya Izumi…” Ishida terkekeh.

Sepulang sekolah, Hikari bersama yang lainnya menunggu digerbang sekolah, ketiga cowok itu penasaran.

“Nah itu dia!” tunjuk Hikari pada seorang cewek yang gaya berpakaiannya modis dan tampak cantik sekali,

Saat cewek itu melewati Hikari,”Oh…jadi mereka bertiga ini adalah bodyguardmu?” tanyanya seraya terkekeh.

“Mereka ini sahabatku, dan dia pacarku!” tunjuk Hikari pada Izumi.

“Hahaha…mereka tampan-tampan.” ujar Miyu seraya mencubit pipi Ryu dan Ishida kemudian dengan cepat ia mencium bibir Izumi.

“Hey!!!” geram Hikari kemudian dengan cepat meninju wajah Miyu tapi meleset.

“haha…siapa pun yang kucium harus menjadi milikku!” ujar Miyu seraya berlalu.

“Dasar cewek murahan!!!” Hikari memberontak, tetapi ditahan oleh Izumi, dan yang lainnya kemudian menyeretnya kedalam mobil.

“Hikari…sudahlah. Itu hanya sebuah ciuman.” ujar Izumi berusaha menenangkan diri.

“Apa kamu bilang?! Kamu sukakan?” geram Hikari.

“Gawat…emosi Hikari sudah mulai meledak-ledak.” ujar Ryu panik.

Yang paling ditakutkan oleh ke tiga cowok ini adalah emosi Hikari yang meledak-ledak. Jika sudah begini kaca mobil yang tebal pun bisa ditinjunya hingga pecah.

“Kyyaaaaa….” belum sempat Hikari meninju kaca mobil, Ryu dengan cepat menangkap Hikari dan memeluknya erat. “Hikari…tenang! aku mohon…”

Hikari hanya menangis dipelukan Ryu, sedangkan Izumi hanya terdiam tak percaya semua ini akan menimpa dirinya dan Hikari. Hikari sementara ini diturunkan dirumah Ryu, supaya Ryu bisa menenangkan Hikari.

“Hikari…aku mohon percayalah padaku.” ujar Izumi sesaat sebelum mobil Ishida meninggalkan rumah Ryu.

Saat didalam kamar Ryu, “ Hikari, aku yakin Izumi tidak menanggapi ciuman itu. Kalo kamu seperti ini Izumi pasti akan sedih. Tenanglah…”

“Cewek itu…aku membencinya!!!”

“Sudahlah…aku yakin Izumi tidak akan menghianatimu.” Ryu berusaha keras menenangkan Hikari.

“ya sudah…antarkan aku pulang saja” pinta Hikari.

“Baiklah…”

Keesokan harinya disekolah, “Hai Hikari…tampaknya Izumi menikmati ciuman itu…” goda Miyu.

“Terserah padamu…” jawab Hikari singkat.

Saat berjalan ke loteng, dilihatnya ada Izumi disini. Kemudian dia membatalkan niatnya untuk berkumpul dan kembali turun. Tetapi Izumi sempat mencegahnya.

“Hikari…” panggilnya.

Langkah Hikari terhenti kemudian dia membalikkan tubuhnya.

“Haruskah aku mempercayaimu lagi, Izumi?” tanya Hikari serius seraya menatap lekat mata Izumi yang tampak sayu.

“Hikari…haruskah kamu lebih mempercayai Miyu,orang yang baru kamu kenal dibandingkan aku yang sudah kamu kenal selama 10 tahun?” tanya Izumi balik tanpa menjawab pertanyaan Hikari sebelumnya.

Hikari terpaku, terdiam dalam bisu. Kemudian Izumi mendekat dan kemudian memeluk Hikari. “Aku mohon, percayalah padaku Hikari…”

HIkari, tidak menjawab, ia hanya meneteskan air mata. Ryu pun menghampirir mereka, begitu juga dengan Ishida. Merekaberempat pun saling berpelukkan.

“Hikari…seharusnya kamu lebih mempercayai Izumi. Aku tau semua perasaan Izumi, karena aku kembarannya. Dia tidak mungkin berpaling pada Miyu. Mana mungkin Hikari yang disukainya sejak kecil dilepas begitu saja karena Miyu, cewek yang baru dikenalnya” jelas Ishida.

“Apa yang dikatakan Ishida benar. Jika kamu seperti ini, Miyu akan merasa menang. Dimana Hikariku yang katanya tak terkalahkan?” sambung Ryu lagi.

Hikari perlahan-lahan mulai tersenyum, tetapi ekspresi Izumi mulai dingin lagi.

*cup* Hikari mencium pipi Izumi,” Hentikan ekspresimu itu!” ujarnya seraya berlari meninggalkan 3 cowok itu.

Pada sore harinya, saat pulang membeli buku, Izumi melihat seorang cewek sedang duduk dipinggir jalan sambil memegangi kakinya.

“Miyu?” sapa Izumi.

“Oh…kak Izumi. Kak Tolong aku…”

“Kamu kenapa?”

“Kaki ku terkilir, dan sekarang nggak bisa jalan. Kakak maukan menggendongku?’ Miyu memohon.

“Bagaimana ya?” Izumi sedikit bingung.

“Ayolah.” Miyu sedikit memaksa.

Akhirnya Izumi pun mau menggendongnya. Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti didepan Izumi dan Miyu, kemudian memaksa Izumi untuk masuk. Izumi tidak bisa membela diri karena orang-orangnya Miyu banyak dan bertubuh besar.

Keesokan harinya saat disekolah,”Izumi tidak ada!” ucap Ishida dengan nada panik.

“Memangnya kemaren Izumi kemana?” tanya Ryu yang mulai kawatir.

“Dia pergi membeli buku” jawab Hikari tegang.

“Izumi tidak pulang dari kemaren! Baiklah hari ini aku dan Ryu akan mencarinya” ujar Ishida.

“Aku ikut!” Hikari memohon agar diijinkan ikut.

“Tidak Hikari, ini berbahaya. Izumi tidak mungkin sampai tidak pulang. Pasti ada sesuatu yang berbahaya.” cegah Ryu.

“Baiklah…” Hikari sedikit kecewa.

“Aku akan menghubungimu!” Ishida berusaha memberikan kelegaan untuk Hikari.

Sorenya, Hikari hanya menunggu Ishida menghubunginya. Sampai pukul 7 tepat, hanphone Hikari berbunyi. Hikari mendapat pesan yang isinya “3 pangeranmu ada bersamaku. Jika kamu ingin mereka selamat, sekarang datanglah ke aula sekolah sendirian. MK”

“Miyu!!!”

Setelah membaca pesan itu, Hikari bergegas pergi ke aula sekolahnya. Hikari langsung berlari kejalan. Sempat beberapa kali ia terjatuh karena tidak melihat jalan hingga kakinya lecet dan berdarah. ia tidak peduli dengan rasa peris dan tetesan darah itu, yang ada dipikirannya hanyalah Izumi, Ryu dan Ishida.

Sesampainya diaula, “Miyu, lepaskan mereka!” teriak Hikari.

“Oh…Hikari.Akhirnya kamu datang juga. Kamu lihat ke3 pangeranmu ini?” tanya Miyu seraya menunjukkan Ryu, Izumi, dan Ishida yang lemah tak berdaya karena habis dipukul. Ke 3 cowok itu diikat dan mulutnya ditutup dengan kain.

“Izumi, Ryu, Ishida!” pekiknya. Ia berjalan mendekat ke arah mereka tetapi dihalang oleh Miyu.

“Jika kamu ingin menolong mereka biarkan aku menyiksamu dulu. Jika kamu menolak maka mereka bertiga akan ku bunuh!” gertak Miyu.

“Hiaaat….” Hikari pun memberikan tendangan mautnya pada Miyu tetapi ditangkis oleh pengawal hikari jatuh tersungkur tak berdaya.Miyu mendekati Hikari kemudian menendangnya.

“Hahaha…akhirnya inilah saat yang paling kutunggu-tunggu. Membalaskan dendamku pada kalian semua!.” ujar Miyu dengan lantangnya.

“Apa maksudmu?” tanya Hikari terbata-bata.

“Masih ingat dengan Mori? Mori yang sangat menyukai kak Izumi dan tergila-gila padanya, itu aku!” akunya.

Semuanya terkejut, “Mor…Mori…tapi kenapa?” tanya Hikari terbata-bata.

“ Itu karena kalian semua meremehkanku! Aku dulu memang nggak cantik, tapi kamu lihat sekarang! Aku lebih cantik dibandingkanmu. Tapi tetap saja kak Izumi tidak berpaling padaku.” jelasnya seraya mengelus wajah Izumi yang tampaknya ingin sekali berteriak.

Hikari mencoba berdiri, tapi tetap saja terjatuh. Kaki Hikari terlalu lemah untuk menopang tubuhnya. Miyu pun mendekat pada Hikari kemudian mengeluarkan pisau lipat. Diarahkannya pisau itu kewajah Hikari, “Hahaha…Wajah cantikmu ini tidak akan cantik lagi!” tawanya. Miyu menyuruh pengawalnya untuk memegangi tangan Hikari, kemudian dia menorehkan pisau itu di pipi Hikari, darah mengucur dari sayatan itu. Hikari tidak berdaya lagi. Begitu juga dengan ke3 cowok itu. Kemudian Miyu menjambak rambut Hikari dan memotongnya.

“hahaha…rasakan itu. Lepaskan dia…aku sudah puas!” aura pembunuh Miyu berkobar-kobar.

Ke 3 cowok itu memandangi mata Hikari, memberi kekuatan untuk Hikari dan meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Perlahan-lahan Hikari mulai bangkit lagi. Walaupun dengan kaki yang bergetar, ia tetap berusaha berdiri tegak. Kemudian dia mengambil ancang-ancang untuk mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk menolong orang-orang yang dicintainya.

Saat Miyu membelakangi Hikari,” Miyu terima ini” *Buuk* Hikari menendang wajah Miyu hingga tidak sadarkan diri. Para pengawal Miyu pun mengelilingi Hikari. dengan sekuat tenaga Hikari menghadapi mereka semua yang berjumlah lebih dari 20 orang. “Izumi, tolong aku…” ujar Hikari dalam hati.

Karena semua pengawal sibuk dengan Hikari, ke 3 cowok itu berusaha melepaskan ikatannya dan dengan cepat menolong Hikari.

“Hikari… Aku mendengar kamu memanggilku.” ujar Izumi seraya mengambil ancang-ancang untuk menyerang pegawal Miyu. Hanya dalam beberapa menit saja semua pengawal Miyu, jatuh terkapar.

“Aku akan melaporkan dia ke polisi” ujar Ishida.

“Jangan…biarkanlah dia. Aku mengerti bagaimana persaannya.” cegah Hikari.

“Hikari…?” semuanya memandang Hikari. Hikari hanya tersenyum, kemudian tiba-tiba dia pingsan.

“Pangeranku…” igau Hikari.

“Beginilah HIkari jika aku berada didekatnya saat dia tertidur.” ujar Izumi pada Ryu dan Ishida seraya menatap Hikari dengan senyuman.

“Aku sudah memberitahukan kepada orang tua Hikari, mereka sangat khawatir, tetapi aku sudah berhasil meyakinan mereka bahwa Hikari tidak apa-apa” ujar Ryu.

“Ya sudah biarkan Hikari beristirahat dulu. Izumi jagalah dia! Aku dan Ryu akan tidur dikamarku” pesan Ishida.

Mereka berdua pun meninggalkan kamar Izumi.

“Hikari,maaf aku terlambat untuk menyelamatkanmu.” *cup* Izumi mencium kening HIkari.

“izumi…” Hikari terbangun.

“Hikari? Ada apa?”

“Jangan jauh-jauh dariku. Sekarang aku ingin bersama Izumi.” ujar Hikari sedikit memohon.

“Baiklah…”

Hikari tertidur dalam pelukkan Izumi.

*Hikari…jangan memelukku terlalu erat. Tulang rusuk ku sakit…. Aww*

to be continue

0 komentar:

Posting Komentar