“Kenalin namaku Juno, pindahan dari Bali.”
“Kyaaa…Juno, kamu ganteng banget sih!”
“Hoam…”
“Jeni, itu tidak sopan!” ibu guru menegurku.
“Iya bu…”
“Juno, sekarang kamu duduk di sebelah Jeni ya.” ibu guru menyuruhnya duduk disebelahku.
“Yang bener aja bu, ogah!”
“Jeni, diam kamu! Silahkan Juno.” ibu guru mempersilahkan Juno. Dia berjalan menuju bangku disebelahku.
Hari ini adalah awal dari serentetan kesialan yang aku alami. Sejak Juno masuk kedalam kehidupanku, semuanya berubah.
“Hai Jeni.” sapanya seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Aku hanya memberikan senyuman manisku yang terlihat jelas sangat terpaksa.
Hari itu ada tes mendadak yang diberikan guru Biologi kepada kami. Dengan santai aku mengerjakan tes itu, maklumlah aku adalah juara umum SMA ini sejak kelas 1.
Saat hasil tes dibacakan, ternyata nilai Juno lebih tinggi dariku 2 angka. aku mendapatkan nilai 98 sedangkan dia 100, sempurna! Mendadak perasaanku meledak-ledak bak perang dunia ke 2.
“Kok bisa sih!” pekikku.
“Hm…ternyata hanya segitu kemampuanmu.” gumamnya padaku.
“Apa maksudmu? Nggak usah ngeledek deh!” gerutuku.
Hancur…hancur… Selama ini nggak ada 1 pun murid di sekolah ini yang bisa menyaingin aku, tetapi saat ini dan detik ini baru Juno yang bisa ngalahin aku. Pengen aku telen deh tu si Juno. Muka ku mau ditaruh dimana? Aku harus belajar lebih giat lagi.
Saat pelajaran olahraga, saat itu kami mepelajari tentang bola basket. Aku adalah kapten tim basket cewek di sekolah ini, semua murid di sekolah ini bakal melting kalo ngeliat aksi dunk ku. Hanya aku cewek satu2nya yang bisa dunk di tim basket kami.
“Jeni,ayo main. Kamu kapten tim cewek dan …” belum selesai guru olahragaku berbicara, Juno memotong.
“Saya pak, yang akan jadi kapten tim cowok.”
“Kamu? Hahaha…bisa apa?” ledekku.
“Kita liat aja nanti.” tantangnya.
Pertandingan pun dimulai, timku yang mendapatkan bola pertama. Saat aku mendribel bola ke arah ring lawan, tiba-tiba… syuut…bola itu kini sudah berada di tangan Juno.
“Hah? Kapan dia merebut bola itu?” aku tercengang.
“Jen…awas!” suara itu menyadarkanku dari lamunan. aku melihat bola datang kearahku dan “bruuuuk…”
“Jen…Jen…bangun…”
Aku pun sadar dan mendapati diriku berada di ruang UKS bersama Juno.
“Kamu nggak papa?” tanyanya.
“Nggak liat nih jidatku benjol gede kaya bakso tenis gini” jawabku ketus seraya menunjuk jidatku yang memar.
“Ya maaf, kamu sih pake ngelamun segala.” jawabnya dengan nada menyesal.
“Kenapa jadi aku yang disalahin?” tanyaku geram.
“Ternyata kamu cantik juga kalo diliat2 sedekat ini” godanya.
“Heh! Nggak mempan tau nggak godaanmu itu.”
“Siapa juga yang ngegoda kamu. Aku ngomong apa adanya.”
“Emang sih wajah Juno juga ganteng, bisa dibilang 11 : 12 dengan Kevin Zeegers, tapi tetep aja nyebelin” gumamku dalam hati.
“Tuh kan…ngelamun melulu. Ntar kesambet lho!” ujarnya menyadarkanku.
“Udah deh aku cabut ke kelas. Gerah banget disini!” ujarku seraya meninggalkan Juno sendirian di situ. Aku menyadari Juno sedang menatapku saat aku meninggalkan ruangan itu.
Sesampainya dirumah ,”Sayang, nanti malam kita akan ada cara makan malam sama keluarga sahabat mama. Sahabat mama yang baru pindah dari Bali. Kamu jangan kemana-mana ya.” pinta mama.
“Ya ma, Jeni mau boci dulu. Ngantuk, cape lagi. Tadi kelasku kedatangan alien.” ujar ku seraya berlalu.
Mama hanya tercengang saat aku mengatakan kelasku kedatangan alien, yang ku maksud adalah Juno.
Malam pun tiba ,”Aduh Jeng, apa kabar?” aku mendengar suara itu dari arah ruang tamu, pasti tamu mama. Aku pun mempercepat periasan wajah ini yang sebenarnya nggak perlu aku lakuin, mama sih maksa. Aku pun menuruni tangga, dan aku melihat seseorang yang aku kenal.
“Juno?” pekikku.
“Jeni?” ujarnya terkejut.
“Ngapain kamu disini?” tanyaku seraya mempercepat langkahku menuruni tangga ini.
“Diajak mama makan malam dirumah sahabatnya.” jawabnya masih tercengang tak mengira akan bertemu denganku.
“wah…wah…ternyata anak kita sudah saling kenal ya. kenal dimana?” tanya mama padaku.
“Ini nih ma,yang aku bilang tadi siang.” jawabku yang masih menatap tajam kearah Juno.
“Hus…kamu ini. Maaf ya Jeng.” ujar mama seraya tersenyum menahan malu.
“Juno, kamu satu sekolah dengan Jeni?” tanya mamanya Juno padanya.
“Iya mah, ini loh dia miss bengong yang aku bilang tadi siang ke mama” jawabnya seraya menyeringai kepadaku.
“Kamu ngatain aku miss bengong?” tanyaku dengan tatapan tajam.
“kamu juga kan?” jawabnya.
“Sudah-sudah kalian ini kok baru kenal sudah berantem kaya gini. ayo jeng kita langsung aja ke meja makan.”
Saat di meja makan, aku terus-terusan menatap tajam ke arah Juno yang terus menyeringai mengejekku.
“Mah, aku ke kolam dulu ya.” ujarku.
“Ah…iya. Juno kamu sekalian aja barengan ama Jeni.” ujar mama yang tampaknya punya maksud tertentu.
Aku pun duduk di tepi kolam, memasukan kaki ku kekolam dan menatap kearah langit yang penuh bintang.
“Indahnya…” gumamku.
“Aku?” ujar Juno dengan bangganya.
“Ya Tuhan, masih ada ya orang yang pedenya gak ketolongan” ujarku
Juno pun duduk disebelahku, menatapku dan bertanya, “Kamu kenapa sih benci banget ama aku?”
“Mau tau?” tanyaku.
“Ya”
Aku pun mendoronganya ke kolam dengan sengaja,”hahaha…kamu udak merusak hidupku! paham” tawaku.
“Tolong…tolong…tolong…” ujarnya meminta pertolongan.
“Berenang sendiri dong” ujarku.
“Nggak..aku nggak bisa…tolong…” ujarnya panik.
“Gawat!” aku pun melompat ke kolam dan menariknya ke tepi kolam.
Papa mama dan orang tua Juno berlarian ke arah kami, dan membantu mengangkat juno.
“Jeni, kenapa juno bisa kecebur kekolam. Juno kan nggak bisa berenang.” ujar mamanya juno panik.
“anu tante….”
“Jeni, kamu pasti mendorongnya. iyakan?” tuduh mama.
“Tapi ma, dia duluan ya…” belum usai aku berkata kata mama sudah menyuruhku masuk.
Aku pun berjalan dengan persaan bersalah kedalam, terdengan suara Juno.
“Syukurlah dia sudah sadar” gumamku tanpa membalikkan badan. aku sangat takut melihat Juno.
Sampai tengah malam aku tidak bisa tidur, aku terus meikirkan Juno. aku hampir ngebunuh Juno. gimana kalo tadi dia tenggelam. lagian dia itu salah apa ama aku? Dia nanyanya juga baik2. Semua pikiran itu memenuhi otakku.
Sejak kejadian itu, aku mulai menghindar dari Juno. Aku pindah tempat duduk, mejauh dari Juno. Berusaha menjauh sejauh mungkin dari Juno walaupun aku tau Juno selalu memperhatikan aku. Tapi walaupun begitu, aku terus memikirkan Juno. aku berusaha menahan dan memendam perasaanku pada Juno yang mulai muncul akhir2 ini.
Beberapa bulan kemudian, saat pengumuman kelulusan Juno menghampiriku yang sedang duduk sendirian di bangku taman sekolah.
“Jeni, kamu lulusakan?” tanyanya.
“Em…i…iya.” jawabku seraya menundukkan kepala ku yang tak berani menatap wajahnya.
“Btw ntar kamu kuliah dimana?” tanyanya seraya menatap kearahku, kemudian beralih ke arah langit.
“ Mungkin tetep stay di Jakarta aja. Kamu?” tanyaku seraya memberanikan diri menatapnya.
“Mungkin aku bakal kuliah di Amrik.”
Aku kembali menundukkan kepalaku, “Jauh banget…” gumamku pelan.
“Kenapa?” tanyanya yang ternyata mendengar gumamanku.
“O…iya kamu sendiri ya disana?” tanyaku seraya menglihkan pembicaraan.
“Aku sih pengen ngajak calon tunanganku kesana?”
“Hah? Tunangan?” kraak…hatiku rasanya remuk seketika. Seharusnya aku senang mendengar kabar gembira ini, tapi entah mengapa perasaanku menjadi galau seolah-olah merasa sangat kehilangan Juno.
“Iya. Kata mama aku bakal ditunangin ama seseorang, tapi aku juga belum pernah liat. Aku sih udah dikasih liat fotonya, tapi foto waktu dia kecil. Ya walaupun begitu, aku yakin gedenya pasti cantik. Hehe” tawanya.
Aku hanya terdiam, tak dapat berkata-kata lagi. Aku sebenernya nggak rela dia ninggalin aku kaya gini. tapi ya udahlah, yang penting aku bisa ngomong ama dia buat yang terakhir kalinya.
“Btw Jun, aku pengen minta maaf nih ama kamu masalah yang waktu itu.”
“Nggak usah dipikirin, lagian gara2 kejadian itu aku jadi pengen belajar renang and sekarang aku udah bisa berenang. thank ya…”
“Baik banget sih ni cowok” gumamku dalam hati.
“Miss bengong, entar pulang sekolah temenin aku ke mall ya. Milihin baju buat acara ntar malem.” pintanya.
“Ntar malem…? emang ada apa?”
“O…iya aku lupa bilang. Entar malem acara tunangannya.”
“Hm…”
“mau ya…”
“ya udah…” jawabku pasrah.
“Gitu dong, kamu emang teman yang baik.”
“Ya…” jawabku singkat.
Saat di mall, kami berdua pun mulai memilih2 baju yang cocok. Setelah berputar2, akhirnya kami memilih 1 stel kemeja dengan levisnya. Seraya melepas kepenatan dan letih kami berduan pun mampir di café strowbery. Aku pun memesan milkshake dan juno pun memesan minuman yang sama.
“Wah…seru dong entar malem. Ketemu calon tunangan yang super cantik” ujarku seraya meminum milkshake yang sudah terhidang di depanku.
“Ya gitu deh… Btw kamu udah punya cowok belum?” tanyanya balik.
“Em…belum. Cowok yang aku suka udahmau tunangan”
Ia menaikan sebelah alisnya, “Aku ya?”
“Ih…pedenya! bukanlah… Kebetulan aja kondisinya sama.” jawabku sedikit terbata-bata setelah mendengar ucapan Juno barusan.
Semua pun tiba-tiba hening. Kami berdua saling tatap-tatapan.
“Jun, udah sore. Ntar kamu telat loh!’ ujarku seraya memecahkan keheningan.
“o…iya, thanks ya udah mau nemenin. see ya…”
Sesampainya dirumah,”Sayang, sekarang kamu mandi dan buruan ikut mama.”
“Kemana ma?” tanyaku bingung.
“Udah nurut aja. pake baju yang rapi ya.” pinta mama.
“Iya deh ma…” Aku tidak bisa menghindar lagi. aku pun segera bersiap-siap. Saat merias wajah, aku tiba-tiba teringat akan Juno. “Juno…hari ini kamu akan menjadi milik orang lain. Padahal tadi aku ingin bilang ke kamu kalo aku itu suka ama kamu. tapi aku nggak mau ngerusak kebahagiaan kamu.” Hufh…
Aku, mama, dan papa pun pergi menuju tempat tujuan mama, di sebuah restoran. saat memasuki restoran, “juno?”
“Jeni” ujarnya seraya tersenyum.
“Eh…jeng sekeluarga silahkan duduk.”
Aku merasa tidak nyaman dengan kondisi ini, aku pun memberanikan diri bertanya “Tante, bukannya hari ini Juno bakal tunangan. Mana tunangannya?”
“Loh? Juno belum bilang ke kamu ya?”
“Belum, bilang apaan?”
“Hari inikan kalian itu tunangan.”
“Hah???” aku terkejut setengah mati. aku pun memalingkan wajahku ke Juno yang duduk disebelahku.
“Juno…”
“Surprise… Aku tadi siang sengaja nggak bilang ke kamu. Aku cuman pengen liat reaksimu aja, ternyata kamu emang beneran cinta ama aku. hahaha…selama perjalanan tadi siang, kamu tuh nggak bersemangat.”
“Jahat banget sih ni alien!!!”
“Wee..miss bengong ternyata cinta mati ama alien.”
“eh…sudah2. Sekarang kalian tukaran cincin deh” ujar mama seraya memberikan cincin itu.
Setelah bertukaran cincin, Juno pun tiba-tiba mencium keningku.
“Hey…”
“Nggak apa2kan…hehehehe”
Semua ini emang nggak terduga, yang awalnya benci, akhirnya jadi cinta. Hihihi…
Dan rencana untuk kuliah di Amrik pun terlaksana, seminggu kemudian aku dan Juno berangkat ke amrik dan kami juga satu univ. Disana Juno selalu menjagaku, dia tidak ingin kehilangan aku.
“Juno, coba buktikan kalo kamu bisa berenang…” pintaku saat kami berada di amrik.
“Hehehe…Jen, aku belum bisa. Yang kemaren boongan aja. Peace…”
“Junooooo!!!!”
“Jeniiiiii… ♥
April 22, 2010
Juno & Jeni
Diposting oleh Chii MeTz di 4:45 PM
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)




0 komentar:
Posting Komentar