“Hikari?”
“Ada apa Mori?” Hikari kembali bertanya kepada teman sekelasnya itu. Untuk pertama kalinya cewek yang dikenal sebagai murid pendiam itu menemui Hikari. Wajahnya sedikit lesu, dan berkacamata.
“Hm…maaf ya. Kalo boleh tau sejak kapan kamu bersahabat dengan kak Izumi?” tanyanya ragu.
“Oo…kak Izumi. Ya sejak kecil, waktu itu kami tetanggaan. Emangnya ada apa dengan kak Izumi itu?” tanya Hikari sedikit penasaran.
“Eh…tidak ada apa2.” jawabnya sedikit terbata-bata.
Hikari meliriknya seraya tersenyum,” Suka ya?” tebak Hikari asal.
Mori terkejut, “ Eem…” sampai tidak bisa menjawab.
“Tuhkan…Mori ternyata suka sama kak Izumi. Gimana kalo sekarang ikut aku!” Hikari menarik tangan Mori bermaksud mempertemukannya dengan Izumi.
“Eh…kemana?” tanya Mori yang pasrah mengikuti langkah kaki Hikari.
Sesampainya di loteng tempat mereka biasa berkumpul tampak Izumi sedang sibuk membaca bukunya. Ryu dan Ishida sedang bermain passing bola.
“Hai semuanya, kenalin ini Mori teman sekelasku!” Hikari memperkenalkan teman yang dibawanya itu.
“A..Em…salam kenal semuanya.” Mori sedikit malu untuk memberi salam untuk semuanya.
“Hai Mori!” Ryu membalas salam Mori dengan senyuman begitu juga dengan Ishida. Terkecuali Izumi yang masih asyik dengan bukunya.
Hikari pun menghampiri Izumi dan *Buuk* Hikari meninju kepala Izumi.
“Hey kak Izumi, kamu dengar gak Mori tadi memberi salam?!” bentak Hikari dengan wajah ketus.
“Dengar…” jawabnya datar.
“Dasar KAK Izumi!!!” pekik Hikari.
Tiba-tiba aura pembunuh Izumi muncul saat ia menatap Hikari,”Gawat…” Hikari sedikit takut. Hikari bisa takut pada Izumi jika aura pembunuh Izumi muncul dari tatapannya, karena waktu kecil Izumi pernah mengarahkan pisau ke arah Hikari, padahal sebenarnya Izumi hendak menikam kodok yang berada disamping Hikari, hanya saja Hikari tidak menyadari keberadaan kodok itu. Karena Izumi tau, Hikari sangat takut pada kodok. Hikari sampai demam selama seminggu, dan akhirnya Izumi pun meminta maaf kepada orang tuanya Hikari dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya, tetapi Izumi melarang orang tua Hikari memberitahukan alasan yang sebenarnya, takut Hikari shock mendengar waktu itu ada kodok disebelahnya. Dan akhirnya Hikari hanya tau Izumi hendak menikamnya.
“Berhentilah memanggilku dengan sebutan KAK!” pintanya dengan nada datar.
Suasana mulai tidak nyaman,”O…iya Mori, kamu sejak kapan berteman dengan Hikari?” tanya Ryu seraya memecahkan suasana.
“O…em, sejaaaaak….” belum selesai Mori menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba Hikari menarik tangan Mori,”Ayo Mori, ikut denganku!” Hikari tampak tergesa-gesa meninggalkan tempat itu.
“Izumi… Tampaknya Hikari mengingat kejadian itu. Apakah tidak berbahaya untuk kesehatannya?” Ryu sedikit kawatir melihat reaksi Hikari barusan.
“Tidak apa-apa. Dia bukan cewek lemah seperti dulu lagi.” jawab Izumi singkat.
“Izumi, tidakkah sebaiknya kamu memberitahukan alasan yang sebenarnya kepada Hikari. Karena aku takut dia akan terus membencimu, karena dia mengira kamu ingin membunuhnya dulu.” Ishida mendekatkan diri kepada Izumi dan merangkul kembarannya itu.
Izumi terdiam sejenak,”Biarkan saja” jawabnya singkat.
Di kelas, Hikari terlihat masih sangat shock.
“Hikari, kamu tidak apa-apakan?” tanya Mori sedikiti kawatir melihat ekspresi Hikari itu.
“Tidak…” jawabnya singkat.
“Memangnya ada apa antara kamu dengan kak Izumi, tampaknya tadi kamu sangat ketakutan saat kak Izumi menatapmu?” tanya Mori sedikit penasaran.
“Tidak…Tidak ada apa-apa. Bisakah kita membicarakan hal yang lain?” Hikari mulai merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini.
“Oh…maaf. Tapi Hikari, bisakah kamu menolongku untuk pendekatan dengan kak Izumi?”
Hikari menatap Mori yang tampaknya sangat menyukai Izumi,”Baiklah, jika kamu benar2 menyayanginya” jawabnya seraya tersenyum.
“Pulang sekolah nanti, kamu bareng aku aja. Biasanya kami selalu pulang bersama-sama.” lanjut Hikari lagi.
“Tentu saja!” Mori setuju dan tampak sangat bersemangat sekali.
Sepulang sekolah, tampak di depan gerbang sekolah Ryu,Ishida sedang menunggu Hikari, sedangkan Izumi hanya duduk menunggu didalam mobil mewah bercat hitam milik Ishida yang biasa mereka pakai setiap harinya.
“Hai Ishida, Mori bisa ikut pulang bersama kitakan?” tanya Hikari seraya memohon.
“Untuk tuan putriku yang cantik apa sih yang nggak?” jawab Ishida seraya menyuruh mereka berdua masuk.
Didalam mobil kursi tengah mobil itu saling berhadapan, Mori duduk bersebelahan dengan Izumi sesuai rencana Hikari yang sudah mereka susun tadi. Sedangkan Ryu, Ishida, dan Hikari duduk kursi hadapannya. Selama diperjalanan suasana sangat hening, Izumi pun memandangi Hikari dengan tatapan tajam, Hikari merasa takut kemudian menutup wajahnya dengan punggung Ishida.
“Hikari, kamu kenapa?” Ishida sedikit terkejut.
“ Ah…tidak apa-apa.” jawab Hikari berdalih.
Ishida pun memeluk Hikari dan mengelus kepalanya karena mereka semua tau Hikari bisa tenang jika ada yang memeluk dan mengelus kepalanya. Hikari lama kelamaan mulai merasa tenang, tetapi ia masih tidak berani membuka matanya.
“Kak Izumi, suka baca buku apa aja?” tanya Mori memecahkan keheningan.
“Semua buku.” jawabnya singkat.
“Ayolah Izumi, santai saja… Tegang sekali! Hahahaha…” tawa Ryu.
Izumi tampak tidak terlalu menghiraukan ocehan Ryu barusan. Ia masih sibuk dengan buku-bukunya. Mori tampak sedikit tidak nyaman dengan sikap Izumi yang terkesan dingin.
“Berhenti. Rumahku disini.” Mori meminta supir untuk menghentikan mobil itu. “Terima kasih atas tumpangannya.”
“Sama-sama!” jawab Ishida seraya menutup pintu mobil.
Tidak berapa lama akhirnya sampailah di rumah Ryu,”Hikari tidak mampir? tanya Ryu seraya turun dari mobil.
“Tidak” jawabnya singkat.
“Kamu kenapa?” tanya Ryu yang bingung dengan sikap Hikari.
Hikari masih memeluk Ishida dengan erat. Ishida pun memegang keningnya,”Ya ampun Hikari kenapa kamu tidak bilang kalo kamu sakit?” Ishida terkejut setelah merasakan panas tubuh Hikari. “ya sudah, biar ayahku yang memeriksa keadaanmu dirumah” lanjutnya. Kebetulan ayah Ishida adalah seorang dokter.
“Terserah…” jawab Hikari lesu.
“Ryu, tolong kamu hubungi mamanya Hkari bilang Hikari sakit dan diperiksa dirumahku. Ok?” Ishida meminta tolong kepada Ryu.
“Baiklah…Hikari semoga cepat sembuh.” ujar Ryu seraya menutup kembali pintu mobil Ishida dan kemudian melambaikan tangan.
Hikari memberanikan diri untuk membuka matanya, tetapi yang dilihatnya adalah tatapan Izumi yang terkesan menyeramkan. Hikari semakin erat memeluk Ishida.
“Izumi, hentikan tatapanmu itu! Itu membuat Hikari semakin takut.” tegur Ishida.
Izumi hanya diam saja. Ishida merasa kasian dengan Hikari, “Pasti dia teringat akan kejadian itu” pikir Ishida.
Sesampainya di rumah, Ishida langsung menggendong Hikari masuk kedalam rumah.
“Izumi, aku akan membaringkan Hikari dikamarmu karena kamu tau sendiri kamarku penuh dengan alat-alat band” pinta Ishida.
“Terserah…” jawab Izumi.
Tanpa basa-basi lagi, Ishida langsung menuju ke kamar Izumi dan membaringkan Hikari di kasur Izumi yang empuk.
“Jaga dia sebentar, aku akan memanggil ayah dulu.:” pinta Ishida.
Izumi memandangi Hikari lekat, kemudian mendekatkan diri ke Hikari. Dielusnya kepala Hikari dengan lembut,”Terima kasih telah menyelamatkanku pangeran. Aku mencintai pangeran…” Hikari kembali mengigau. Izumi tertegun,”Ternyata pangeran itu?” gumamnya seraya tersenyum tampak mengetahui sesuatu.
“Izumi, Hikari kenapa?” Ishida datang dan menggetkan Izumi.
“Tidak apa-apa, dia hanya mengigaukan suatu hal.” jawabnya seraya berlalu meninggalkan kamarnya.
Ishida pun menghampiri Hikari dan mengompres kening Hikari untuk menurunkan panas Hikari sementara menunggu ayahnya pulang dari RS.
Tiba-tiba handphone Ishida berdering,” Halo…Oh…Iya. Baiklah aku akan segera kesana.” Panggilan dari teman-teman bandnya. “Izumi…!!!” panggil Ishida.
“Ada apa?” jawabnya seraya melongo dari depan pintu.
“Kamu jaga Hikari sebentar. Aku lupa kalo hari ini ada latihan. Jangan lupa kompres keningnya.” pesan ishida terburu-buru.
Ternyata Izumi sangat perhatian dengan Hikari, dia mengompres Hikari kemudian mengelus-ngelus kepala Hikari supaya Hikari merasa nyaman. Dan akhirnya Izumi letih juga. Dia duduk disebelah Hikari, tiba-tiba Hikari menggigil.
“Hikari kamu kenapa?” tanya Izumi panik. Seluruh tubuh Hikari bergetar. Izumi berusaha menghubungi Ishida tetapi handphonenya tidak aktif, begitu juga dengan ayahnya. Karena Izumi sangat kebingungan akhirnya dia menyenderkan hikari di bahunya dan memeluknya dengan erat. Getaran itu pun terasa ditubuh Izumi,”Hikari…maafkan aku.”
“Izumi…Izumi…” Ishida membangunkan Izumi yang ternyata tertidur. Dia terkejut, kemudian melihat Hikari tertidur pulas dibahunya. “Bagaimana keadaan Hikari?” lanjutnya.
Izumi memegang kening Hikari dan merasakan suhu tubuhnya. “Sudah mulai membaik.” jawab Izumi dengan lega.
“Ayah malam ini tidak bisa pulang karena ada pasien yang sedang dioperasi. Biarkan saja Hikari tidur disini. aku sudah meminta ijin kepada mamanya dan mamanya mengijinkan. Kamu tidur bareng aku aja.” ajak Izumi.
“Hm…tidak usah. Aku akan tidur disofa ku saja. siapa tau Hikari ada apa-apa nantinya.” jawab Izumi seraya memandangi Hikari yang tampaknya tidur pulas dan letih.
“Baiklah. Ini, kamu bangunkan dia sebentar untuk meminum obat ini. Kemudian kamu cepat-cepat mengelus kepalanya supaya ia tidak bangun total. Ok?” Ishida pun menyerahkan obat dan segelas air untuk meminum obat itu. Ishida kemudian meninggalkan kamar itu. Izumi pun dengan perlahan membangunkan Hikari,”Hikari…Hikari…” panggil Izumi pelan.
“Ada apa?” jawab Hikari setengah sadar.
“Ini minumlah dulu” Izumi membantu Hikari untuk duduk dan meminum obat itu.
Izumi dengan cepat kembali duduk disamping Hikari dan mengelus kepalanya. Perlahan-lahan Hikari mulai tertidur lagi.
Paginya…
“Kyaaaaaa!!!!” pekik Hikari terkejut.
Izumi terbangun, mendapati dirinya tidur berdua dengan Hikari.
“apa yang kamu lakukan padaku!!!” teriak Hikari pada Izumi yang masih tampak ngantuk.
Mendengar teriakkan Hikari, Ishida bergegas berlari ke kamar Izumi. “Ada apa?”
“Ishida…” Hikari berlari ke arah Ishida dan memeluknya. Kemudian menangis.
“Hey Hikari, kamu jangan salah paham dulu! Aku sudah cape-cape mengurusmu semalaman suntuk. Kamu malah menuduhku yang tidak-tidak. Aku tidak mungkin melakukan hal sehina itu.” ujar Izumi membela diri.
“Hahaha…itu benar Hikari. Mungkin Izumi hanya kecapean setelah mengurus kamu kemaren seharian sampai larut malam dia tidak tidur.” jelas Ishida sambil tertawa.
Hikari merasa bersalah, perlahan-lahan dia mendekati Izumi kemudian memeluknya. “Terima kasih Izumi-kun” ujarnya. Setelah beberapa menit kemudian…
“Hey lepaskan! Aku bukan boneka yang bisa kamu paluk seenaknya!” ujar Izumi tersadar kemudian melepaskan pelukan Hikari.
“Hahaha…tapi kamu juga menikmatikan?” ejek Ishida.
“Sudahlah…tapi aku berterima kasih kamu tidak memanggilku “KAK” lagi.” ujar Izumi seraya berlalu meninggalkan mereka berdua.
Hikari hanya tersenyum,”Izumi, terima kasih telah menjagaku. Sekarang aku baru menyadari bahwa kamu juga menyayangiku” gumam Hikari dalam hati.
“Hikari…Hikari…” suara Ishida menyadarkannya dari lamunan.
“Izumi itu tidak sejahat kelihatannya. Dia juga sayang kok sama Hikari, seperti aku dan Ryu menyayangi Hikari.” lanjutnya.
“Benar…”
“Hikari, sekarang aku antar kamu pulang ya. Aku takut mamamu mengkhawatirkanmu dirumah.”
“Hm…aku tau Ishida sedang terburu-buru. Pergi aja. Aku pulangnya nanti aja, Izumi bisa mengantarku.” ujar Hikari dengan penuh harap.
“Baiklah…aku tinggal dulu ya. Akur-akurlah dengan Izumi” pesannya.
Hikari pun mencari-cari Izumi, dan kemudian mendapati Izumi sedang memasak di dapur.
“Wah…Izumi bisa masak juga?” pekik Hikari tidak menyangka.
“Tentu saja.” jawab Izumi dingin.
Tiba-tiba Hikari mendekati Izumi dan memeluknya erat dari belakang. “Izumi, aku mohon jangan bersikap dingin seperti itu lagi kepadaku. Aku tau Izumi sangat menyayangi aku, bahkan lebih dari pada Ryu dan Ishida. Malam tadi aku memimpikan kejadian itu, saat kamu mengarahkan pisau kepadaku. Ternyata disebelahku ada kodok, kamu ingin membunuh kodok itu, bukannya aku. Izumi ingin menyelamatkanku. Aku yakin mimpi malam tadi adalah kejadian yang benar2 terjadi dulu. Aku mohon Izumi, janganlah bersikap seperti itu lagi. Karena aku membutuhkanmu Izumi… Aku tau kamu selalu melindungiku, dari dulu sampai sekarang. Hanya saja kamu menutup-nutupi perasaanmu dengan sikap dinginmu itu. Izumi…” Hikari semakin erat memeluk Izumi. Izumi membiarkan Hikari memeluknya, dan beberapa saat kemudian Izumi membalikkan tubuhnya dan *cup* mencium Hikari. Hikari hanya pasrah, dan kemudian pipinya basah karena air mata yang mengalir dari matanya.
“Sudahlah jangan menangis lagi… Maafkan aku atas sikap ku selama ini. Aku hanya terlalu pengecut untuk memperlihatkan perasaanku padamu. Aku akan menjagamu selamanya, Putri Hikari…”
To be continue
April 24, 2010
Wonderlife part 2
Diposting oleh Chii MeTz di 2:04 PM
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)




0 komentar:
Posting Komentar